Obat Cedera Otak Bisa Untuk Cedera Tulang Belakang

Ilustrasi sejumlah pengendara sepeda motor di tengah kemacetan (Antara/Makna Muhammad Akhira Zaezar/yus4)

Jakarta, GATRANews -- Seiring dengan makin banyaknya kendaraan bermotor beroda 2 yang berlalu lalang di jalan raya, makin tinggi risiko terjadinya kecelakaan. Selain kematian, kecelakaan lalu lintas juga dapat menyebabkan korban menderita cedera sumsum tulang belakang.


Di Amerika Serikat, ditemukan 40 per 1 juta penduduk di sana yang menderita cedera tersebut. Jika prevalensi itu diterapkan di Indonesia, maka saban tahun dijumpai 10.040 kasus baru cedera sumsum tulang belakang.

Cedera sumsum tulang belakang inilah yang menurut Doktor Alfred Sutrisno, dokter bedah saraf yang berpraktek di Rumah Sakit Omni Internasional Alam Sutera, bisa menyebabkan kelumpuhan. “Kelumpuhan bisa menghambat produktivitas, karena korban tak bisa bekerja lagi,” ujarnya kepada GATRANews (3/8/2017).

Untuk mengobatinya, Alfred menawarkan obat ACTH4-10PGP. “Obat itu sebenarnya obat untuk cedera otak, dan stroke,” tambahnya. Ayah dua anak ini sudah membuktikannya dalam riset yang digunakan untuk mendapatkan gelar Doktor di Fakultas Kedokteran Universitas Hassanudin, Makasar, akhir bulan lalu.

Dalam riset tersebut, ia menggunakan 32 tikus Sprague Dawley putih yang beratnya 200-250 gram. Mereka semuanya dijepit sumstum tulang belangnya dengan klip berkekuatan 26 gram selama semenit. Kemudian, mereka dibagi dalam 4 kelompok: kelompok I tidak diberi terapi sama sekali, kelompok II diberi ACTH sejam setelah dijepit, kelompok III diberi ACTH 3 jam setelah dijepit, dan kelompok IV diberi ACTH 6 jam setelah dijepit.

Studi berlangsung selama 4 pekan. Fungsi motoriknya diperiksa setiap pekan hingga pekan keempat. Walhasil, kata Alfred, perbaikan sel saraf membaik. “Terutama pada pemberian ACTH 1 jam setelah penjepitan,” sambungnya.

Kesimpulannya: pemberian ACTH4-10PGP memberikan pengaruh yang signifikan terhadap perbaikan fungsi motorik dan jaringan saraf pada cedera sumsum tulang belakang. Alfred bilang, bahwa obat tersebut pernah diberikan juga kepada sejumlah pasien cedera sumsum tulang belakang. Dan, hasilnya bagus.

Obat itu bekerja dengan mencegah terjadi rongga atau kista pada sumsum tulang belakang akibat peradangan. Rongga ini diklaim sebagai penyebab kelumpuhan, karena perbaikan jaringan sel terganggu. Obat-obat anti peradangan dari golongan kortikosteroid, menurut Alfred, tidak berhasil mengatasinya.


Reporter: Aries Kelana

Editor: Aries Kelana

 

Share this article