Mantan Menteri Perindustrian Saleh Husin (GATRA/Eva Agriana Ali/AK9) Jakarta, GATRAnews - Mantan Menteri Perindustrian Saleh Husin, mantan Menteri Perdagangan Rachmat Gobel, Wali Kota Tangerang
Ilustrasi (Antara/Yusuf Nugroho/AK9) Yogyakarta,GATRAnews - RSUD Panembahan Senopati Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, hanya mampu menyembuhkan 300 pasien katarak setiap tahun. Mahalnya biaya
Ilustrasi (GATRAnews/AK9) Jakarta GATRAnews -- Penelitian Northwestern University baru-baru ini menggarisbawahi bagaimana kondisi lingkungan di awal perkembangan dapat menyebabkan peradangan pada
Ilustrasi (GATRAnews/AK9) Jakarta GATRAnews - Kecerdasan (IQ) yang lebih tinggi saat kanak-kanak berkaitan dengan risiko kematian yang lebih rendah terhadap penyebab utama kematian. Termasuk
Jakarta GATRAnews - Komputer yang mampu meramalkan masa hidup pasien hanya dengan melihat gambar organ tubuh, selangkah lebih dekat untuk menjadi kenyataan. Semua itu berkat penelitian di University
Jakarta GATRAnews - Menggunakan bukti yang ditemukan pada gigi bayi, periset dari The Senator Frank R. Lautenberg Environmental Health Sciences Laboratory and The Seaver Autism Center for Research
Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan (Dok.GATRA/re1) Bandung, GATRAnews - Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan (Aher) mengusulkan kepada pemerintah pusat agar Dana Alokasi Khusus (DAK) bidang

Ikatan Apoteker Indonesia Gelar Pelatihan Apoteker

Jakarta, GATRANews -- Kasus vaksin palsu yang merebak Juni 2016, telah mengagetkan semua orang. Catatan dari Kepolisian RI menunjukkan, sedikitnya 197 bayi teridentifikasi mendapat suntikan ini. Vaksin palsu yang memapar ratusan bayi itu disuntikkan di 37 fasilitas kesehatan, termasuk 14 rumah sakit yang tersebar di kawasan Jabodetabek. Sebanyak 18 orang telah dijatuhi hukuman mulai 6-10 tahun penjara karena terbukti terlibat dalam kasus ini.

Agar tidak terulang lagi kasus tersebut, Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia (PP IAI) membentuk Tim GPP IAI. Tugasnya, membantu pemerintah agar kasus semacam ini tidak terulang lagi. Tim dibawah pimpinan Dra Aluwi Nirwana Sani, Msi, Apt ini, juga bertugas membantu pemerintah dan rumah sakit untuk memastikan kualitas obat yang digunakan di rumah sakit.

Sebagai salah satu realisasinya, IAI menggelar kegiatan bertajuk “Peningkatan Kompetensi Apoteker dan Implementasi Pelayanan Kefarmasian Yang Baik” di 40 rumah sakit se Kota Bekasi. Acara yang dimaksudkan untuk mengimplementasikan Peraturan Menteri Kesehatan No 72 Tahun 2016 mengenai Good Pharmacy Practice (GPP). Acara berupa workshop itu berlangsung di Hotel Aston, Imperial, Jalan Noer Ali, Bekasi, (7/8/2017).

Acara tersebut merupakan pilot project untuk peningkatan kompetensi apoteker. Jika berhasil, kata Nurul Falah Eddy Pariang, Ketua IAI, akan diterapkan secara bertahap di seluruh Indonesia. Adapun pelatihannya berlangsung hingga Februari tahun depan. Sebanyak kepala instalasi farmasi di rumah sakit akan mengikuti kegiatan tersebut.

PP IAI menggandeng FAPA (Federation of Asian Pharmaceutical Associations) Foundation GPP Expert Group. Menurut Nurul, FAPA akan membantu membantu merumuskan implementasi tersebut. GPP Consulting Team yang terdiri terdiri dari Mr Joseph Wang (President FAPA), Dr Chang Yuh Lih (Taipe Veterans General Hospital), Dr Chiang Shao Ching (Sun Yat Cancer Center), dan Ivan HungChang Chou (Executive Director Taiwan Young Pharmacist Group) membantu Tim GPP IAI selama kegiatan ini berlangsung.

Menurut Joseph Wang, upaya peningkatan kualitas obat di rumah sakit, dapat dilakukan melalui empat lini yaitu dari dalam rumah sakit sendiri dengan memberdayakan keberadaan apoteker di rumah sakit, dengan kontrol distributor obat secara ketat oleh pemerintah dalam hal ini Kementerian Kesehatan, mengontrol secara ketat limbah rumah sakit yang diharapkan menjadi perhatian Kementerian Lingkungan Hidup, serta ketersediaan obat di pasar.

“Dari dalam rumah sakit, upaya dilakukan dengan memberdayakan apoteker yang menjadi penjaga gawang bagi keamanan obat yang diberikan kepada pasien,” ujar Wang. Jumlah apoteker yang cukup di setiap unit, keterlibatan apoteker dalam pengadaan obat-obatan diharapkan menjadi salah satu cara untuk menghindari masuknya obat-obatan palsu maupun obat dengan kualitas dibawah standar ke rumah sakit.

Menurut Nurul, idealnya setiap rumah sakit tipe A berisi 18 apoteker, tipe B 13 apoteker, dan tipe C berjumlah 8 apoteker. Ia berharap rumah sakit jangan merasionalisasi jumlah apoteker dengan alasan biaya atau jumlah apoteker yang terbatas. Ia meminta Komite Akreditasi Rumah Sakit memberikan patokan minial rasio jumlah apoteker per kamar tidur.

Nurul bilang jumlah apoteker yang tersedia sudah cukup memenuhi kebutuhan rumah sakit. Saat ini sudah tersedia 68.000 apoteker. “Nanti Agustus akan ada lagi lulusan sarjana farmasi yang berjumlah sekitar 3.000 apoteker,” katanya.


Reporter: Aries Kelana

Editor: Aries Kelana

Share this article