Megenal Aritmia, Penyakit Sistem Listrik Jantung

Jakarta, GATRAnews - Aritmia atau gangguan irama detak jantung merupakan salah satu penyakit yang cukup berbahaya jika tidak mengenal gejala dan cara untuk mengatasinya karena bisa menyebabkan kematian secara mendadak.



Prof. Dr. Yoga Yuniadi dalam konferensi pers di Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita, Jakarta, Jumat (11/8), mengatakan, aritmia merupakan salah satu gangguan jantung yang cukup sering terjadi  di masyarakat Indonesia.

Profesor di bidang aritmia ini menjelaskan, penyakit aritmia terjadi karena adanya gangguan produksi implus atau abnormalitas penjalaran impuls ke otot jantung. Gangguan pada penjalaran implus listrik menimbulkan gangguan irama jantung alias aritmia.

"Berdebar merupakan gejala tersering dari aritmia, namun spektrum gejala aritmia cukup luas, mulari dari berdebar, keleyengan, pingsan, stroke, bahkan kematian mendadak," ujarnya.

Jika jantung berdetak terlalu kencang yakni di atas 100 kali permenit (kpm) atau di bawah normal yaitu terlalu lambat adalah 60 kpl, bisa menimbulkan kematian mendadak (sudden death).

"Jika lebih dari 250 kpl, jantung seolah-olah berhenti dan ini yang disebut henti jantung. Ini sangat berbahaya karena jika seseorang mengalami henti jantung, sesaat setelah mengalami henti jantung, tidak dibutuhkan waktu lama jika terus berlangsung dan tidak ditangani, dalam waktu 9 menit pasien tersebut meninggal," katanya.

Menurut Yoga, risiko tersebut kemungkinan bisa diminimalisir jika melakukan tata laksana penanganan aritmia yang baik. "Mungkin skenarionya akan berbeda dengan alat yg dinakaman defibrillator, insya Allah kita bisa melakukan pertolongan terhadap pasien. Ketika terjadi aritmia dilakukan cardioversion, maki dia kembali ke irama normal," ujarnya.

Namun alat defibrillator itu umumnya hanya terdapat di rumah sakit. Sedangkan mayoritas orang terserang aritmia itu kebanyakan di rumah atau tempat lainnya, sehingga kemungkinan mendapat pelayanan menggunakan alat ini pun sangat tidak mungkin.

"Ini kalau dilakukukan di rumah sakit menggunakan defibrillator atau sekarang kalau waktu terlalu sempit yakni 9 menit harus berlangsung terus otak juga sudah rusak," katanya.

Karena itu, lanjut Yoga yang hari ini dikukuhkan sebagai guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) itu, pemerintah berupaya mendekatkan alat kesehatan kepada masyarakat khususnya yang mempunyai riwayat aritmia.

"Mengatasi hal tersebut, dengan adanya autometic eksternal yaitu defibrillator, tapi rasanya masih tidak tepat untuk itu. Alhamdulillahh sekarang ada yang disebut ICD (Implantable Cardioverter Defibrillator) yang ditanam di tubuh, di bawah kulit," katanya.

"ICD akan menditeksi terjadinya gangguan dan dilakukan cardioversi dalam waktu 10 detik kembali ke irama normal. Jadi istilahnya gagal mati mendadak (aborted sudden death)," katanya.

Bagi pasien yang mempunyai risiko tinggi aritmia, maka sebaiknya memasang ICD. "Bahwa sebagian besar henti jantung itu terjadi di rumah hampir 80% sehingga rasanya tidak ada kesempatan untuk menolong jika dia belum memasang ICD juga pada outcome seseorang yang mengalami henti jantung itu ditentukan ada tidaknya seseorang yang melakukan tindakan pertolongan dalam hal ini resusitasi.

"Kita lihat banyak orang setelah alami henti jantung mendapat pertolongan dia bisa kembali kehidupan normal dibandingkan jika tidak ada penolong," katanya.

Untuk itu, lanjut Yoga, perhimpunan cardiovascular Indonesia sudah secara aktif melatih para dokter agar mahir melakukan tindakan resusitasi sehingga diharapkan dapat membuat yang henti jantung kembali baik.

"Bukan hanya itu, perhimpun ahli cardiovascular dan perhimpunan kardiologi melakukan pelatihan bantuan hidup dasar untuk orang-orang awam, seperti satpam, bahkan para profesional kesehatan agar mereka mampu dan confidence memberikan pertolongan ketika ini terjadi," ujarnya.


Reporter: Iwan Sutiawan

Share this article