Tenaga Dokter Endoskopi di Indonesia Masih Terbatas

Workshop Endoskopi (GATRA/Aries Kelana/HR02)

Jakarta, GATRANews -- Tenaga dokter ahli endoskopi dinilai relatif masih terbatas. Di Indonesia, diperkirakan sekitar 600 dokter saja. Namun dari jumlah tersebut, kurang dari 50 dokter spesialis penyakit dalam yang memiliki kemampuan mumpuni menggunakan peralatan tersebut yang lebih modern. Itu pun sebagian besar terpusat di beberapa kota besar.

Kemampuan para dokter endoskopi di Indonesia sebenarnya sudah cukup mahir dan mampu bersaing dengan dokter-dokter dari negara-negara lain. Namun, dengan kemajuan peralatan endoskopi belakangan ini, para dokter endoskopi Indonesia perlu terus mengasah pengetahuannya, sehingga menjadi lebih mahir.

Maka, Perhimpunan Endoskopi Gastrointestinal Indonesia (PEGI) menggelar workshop endoskopi. Workshop atau course ini merupakan bagian dari kalender acara outreach the Asia Pacific Society for Digestive Endoscopy (APSDE) tahunan yang kali ini diadakan di Jakarta. Sebanyak 40 dokter endoskopi diundang untuk memperdalam ilmunya.

Menurut Dr dr Ari Fahrial Syam SpPD KGEH, Ketua Umum PEGI, course yang berlangsung selama 5 hari (11-15 September 2017), juga akan menghadirkan beberapa ahli endoskopi dari luar negeri, antara lain Prof Seigo Kitano, MD, President APSDE, dan Prof Hisao Tajiri, MD, President Japanese Gastroenterological Endoscopy Society. Keduanya dari Jepang.

Dua ahli endoskopi dari Jepang juga turut mengisi acara dalam bentuk kuliah tamu. Mereka adalah Prof. Kazuhisa Okamoto, MD, Prof Mitsuhiro Kidadari dari Fakultas Kedokteran Universitas Kitasato, dan Prof. Eiji Umegaki, MD, dari Departemen Gastroenterologi, Kobe University School of Medicine.Dari hasil pelatihan selama 5 hari itu,  para dokter spesialis penyakit dalam yang terlibat dalam sesi pelatihan ini diharapkan mampu melakukan tindakan endoskopi tingkat lanjut (advanced endoscopy). “Untuk pelatihan di Jakarta dipimpin oleh tim dari Kobe University School of Medicine,” ujarnya kepada wartawan dalam jumpa pers yang digelar di Ruang Kuliah Penyakit Dalam, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.

Tentu saja course itu diselenggarakan agar memberikan manfaat kepada peserta.
Course tersebut diselenggarakan dengan tujuan agar para peserta dapat meningkatkan kemampuan dalam menggunakan endoskopi, sehingga dapat menegakkan diagnosa secara lebih akurat,” ujar Ari  dalam jumpa pers tersebut. Dengan demikian pula ini akan membawa implikasi terhadap pasien.

Ini karena dokter yang ikut di acara itu berasal dari berbagai daerah. Dokter akan menerapkan ilmu yang baru didapatnya itu dalam memeriksa pasien di berbagai daerah. “Sehingga terjadi pemerataan pelayanan kesehatan. Pasien tak perlu ke Jakarta untuk memeriksakan penyakit sistem pencernaannya,” imbuh Dokter Ari Fahrial Syam.

Sementara itu Prof Hisao Tajiri (President Japanese Gastroenterological Endoscopy Society/JGES) menanggapi dengan mengatakan bahwa pelatihan endoskopi saluran cerna tingkat lanjut  yang diberikan tim ahli dari Jepang iniini merupakan bentuk dukungan bagi PEGI. “Pelatihan hands on ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan dokter spesialis penyakit dalam terkait advanced endoscopy di regional, termasuk Indonesia,” ujarnya.

Di Jepang jumlah dokter ahli endoskopi memadai jika dibandingkan dengan jumlah penduduk di sana. Menurut Tajiri, di negeri Sakura itu terdapat sekitar 30.000 ahli endoskopi. Adapun jumlah penduduk Jepang sekitar 127 juta jiwa (data tahun 2016). Bandingkan dengan Indonesia yang berpenduduk 280 juta tapi hanya memiliki 600 dokter endoskopi.

Pembicara lain dalam jumpa pers itu adalah Prof Seigo Kitano (President Asia Pacific Society of Digestive Endoscopy/APSDE). Ia mengatakan bahwa pada saat ini terdapat 20 negara yang menjadi anggota APSDE. “Indonesia merupakan salah satu negara yang penting dan menjadi prioritas pelatihan endoskopi saluran cerna tingkat lanjut karena jumlah populasi yang besar namun dokter yang menguasai advanced endoscopy masih terbilang sedikit,” tuturnya.


Reporter: Aries Kelana

Editor: Aries Kelana

 

Share this article