Deteksi Nadi, Cegah Stroke

Yoga Yuniadi (dok. Eugenia Communications)

Jakarta, GATRANews -- Suwarti, bukan nama sebenarnya, saban hari memeriksa tekanan darahnya. Setiap pagi, tak lama setelah bangun tidur, ia mengambil tensimeter otomatis. Tekanan darahnya terkadang 150/80 mmHg, terkadang normal (120/70).

Denyut jantungnya juga begitu. Kadangkala mencapai di atas 100 kali per menit kadang di bawah angka tersebut. Pemeriksaan tensi dan denyut jantung pun dilakukan pada sore harinya. "Buat jaga-jaga saja, takut kena stroke," katanya.

Itu dilakukan lantaran wanita 49 tahun ini kawatir terjadi apa-apa dengan dirinya. Maklum beberapa anggota keluarga menderita hipertensi atau tekanan darah tinggi. Bahkan ayahnya meninggal karena stroke. Begitu pula kakak kandungnya.

Belum lagi, dirinya dan kakak-kakak serta adiknya menderita obesitas. Mereka umumnya memiliki berat di atas 70 kilogram. Suwarti memiliki berat 75 kilogram. Sedangkan adiknya malah menembus angka 100 kilogram. Warga Bekasi ini juga cepat lelah jika berjalan 100 meter atau menaiki tangga.

Tekanan darah tinggi dan obesitas merupakan salah satu faktor risiko stroke, selain gejala mudah cepat lelah. Di samping itu, stroke juga bisa diakibatkan oleh gangguan irama jantung atau yang dikenal dengan sebutan fibrilasi atrium (FA). Penyakit kardiovaskular itu jarang diketahui masyarakat. Masyarakat hanya mengetahui penyakit jantung secara umum.

FA kalah populer dibandingkan penyakit jantung koroner, serangan jantung, dan gagal jantung. Maka, Perhimpunan Kardiologi Indonesia (PERKI) merasa perlu lebih menggalakkan pemahaman FA. Bersama organisasi lain, mereka menggelar kampanye FA. Kampanye itu diperkenalkan kepada wartawan pada Jumpa Pers yang digelar di Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita, Jalan S Parman, Slipi, Jakarta Barat, Rabu (11/102017).

Guru Besar Ilmu Kardiologi dan Kedokteran Vaskular Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Yoga Yuniadi mengatakan bahwa penderita FA memiliki resiko 5 kali lebih tinggi untuk mengalami stroke dibandingkan orang tanpa FA." Bahkan 40% penderita stroke yang mengalami sulit berbicara disebabkan oleh kondisi irama jantung tersebut yang tidak teratur," ujarnya.

FA bisa dikenali juga dengan pemeriksaan tekanan darah dan denyut jantung. Yoga menganjurkan, jika ada yang tidak beres dengan keadaan nadi, segera memeriksakan diri ke rumah sakit terdekat. "Dari sanalah akan diketahui apakah terkena FA atau tidak," katanya.

Kalau tidak dilakukan pemeriksaan sedini mungkin, penyakit tersebut dapat menyebabkan stroke. Serangan stroke bisa menyebabkan kelumpuhan, baik sebagian atau seluruh tubuh

Kelumpuhan akibat stroke dapat terjadi karena FA, meskipun prosesnya lebih lama namun sering berulang. Umumnya, 50% pasien akan mengalami stroke kembali dalam satu tahun kemudian. Ini dapat berupa gumpalan darah di otak sehingga menjadikan aliran darah tersumbat dan karena pecah pecahnya pembuluh darah di otak. Gejalanya dapat karena sakit kepala yang hebat tanpa sebab dan terjadi secara mendadak.

Untuk menurunkan resiko terkena stroke, Yoga menjelaskan terdapat 3 terapi seperti teknik ablasi kateter, pemasangan alat LAA (left atrial appendage) closure dan konsumsi obat antikoagulan oral aaru (OKB). Untuk kateter, ada 26 ahli penyakit jantung yang dapat menggunakan alat ablasi kateter.

Namun yang paling penting, sambungYoga,  yaitu deteksi dini. Tindakan tersebut diharapkan dapat menurunkan resiko terkena stroke. Ini mengingat 37% pasien FA berusia di bawah 75 tahun.

Selain itu, perlu pula melakukan langkah mengurangi resiko terkena FA. Pemilihan makanan dan olah raga teratur menjadi solusinya. "Pilihlah makanan rendah lemak jenuh. Penting juga untuk menghindari lemak trans serta garam," ujar Yoga.

Lebih baik konsumsi daging yang tidak beremak. Untuk minuman, susu rendah lemak menjadi solusi dan kurangi minuman manis. Selain itu bagi masyarakat yang sering merokok, perlu diketahui bahwa perokok pasif berpotensi terkena penyakit kardiovaskular.



Reporter: Aries Kelana & Annisa Setya Hutami

Editor: Aries Kelana

 

Share this article