Dokter Indonesia Diakui Dunia Jago Terapi Sel Punca Penyakit Jantung

Laboratorium sel punca (dok. Kalbe Farma/yus4)

Jakarta, gatracom - Terapi sel punca untuk penyakit jantung di Indonesia sudah sangat maju dibandingkan negara-negara lain didunia. Untuk kawasan Asia Pasifik hanya dua negara yang yang diakui bisa melakukan terapi itu yaitu Hongkong dan Indonesia. Terapi sel punca di Indonesia dilakukan pada pasien-pasien yang sudah tidak punya pilihan terapi lain dimana selutuh standar pengobatan konvensional telah dilakukan namun penyakit terus memburuk.

 

Hal itu disampaikan Dr.dr Ismail HD, Sp.OT (K)  ketua dewan pelaksana Asosiasi Sel Punca Indonesia saat mengumumkan rencana rencana penyelenggaraan Pertemuan Ilmiah Kedua Sel Punca dan Rekayasa Jaringan, Rabu (11/10). Pertemuan yang bertema Terobosan Baru Penatalaksanaan Sel Punca pada Pengobatan Regeneratif,  akan diselenggarakan pada 9-11 November 2017 di Ruang SCTE IMERI Tower A Lt. 8.

 

Pertemuan ilmiah sel punca ini diselenggarakan untuk memfasilitasi diskusi dan berbagi informasi terkini terkait perkembangan sel punca dan rekayasa jaringan serta penerapannya pada dunia kedokteran di Indonesia dan dunia melalui rangkaian acara yang meliputi Simposium Awam, Simposium Ilmiah dan Workshop mengenai sel punca dan rekayasa jaringan. "Supaya kita ngak kalah-kalah banget dari negara lain dan jadi ladang komersialisasi pihak lain untuk mengeruk keuntungan," selorohnya.

 

Terapi sel punca untuk penyakit jantung di Indonesia sudah dirintis sejak 2007.  Para dokter Indonesia bisa melaksanakan terapi itu baik pada penderita jantung koroner maupun penderita yang sudah berkali-kali terkena serangan jantung.  Dr. dr. Cosphiadi Irawan SpPD-KHOM menceritakan salah satu kasus yang ditanganinya, dimana pasiennya sudah berkali-kali mengalami serangan jantung dan pembuluh darahnya rusak. "Kondisi pasien sudah sangat berat. Jantungnya bengkak dan tidak bisa berkontraksi," tuturnya. 

  

Tim dokter melakukan NOGA Endocardial Mapping untuk melihat jaringan mana saja yang sudah mati dan mana yang masih sehat maupun yang setengah sehat.  pemetaan ini perlu dilakukan untuk menentukan di mana saja sel punca harus disuntikkan.  Setelah itu, pasien dibius untuk diambil sel punca. "Bayangkan dalam kondisi pasien dengan daya pompa jantung yang sangat jelek harus dibisu dengan cara yang sangat spesifik. ini sangat sulit," tuturnya.  Selanjutnya jaringan yang diambil dari tubuh pasien diekstrasi untuk didapatkan sel punca.  Selanjutnya sel punca itu disuntikkan langsung di ventrikel jantung pasien. "Suntikan pada daerah yang jaringannya sudah setengah mati," katanya. 

 

Setelah penyuntikan, kondisi pasien diperiksa dengan MRI Cardiac untuk melihat apakah jaringan parutnya mengecil atau tidak, apakah kemampuan kontraksinya membaik  atau tidak dan pembuluh darahnya bertambah atau tidak.

 

Sel punca (stem cell) sendiri adalah sel induk yang menjadi asal dari segala jenis sel di tubuh manusia. Karena sifat tersebut, sel punca diyakini dapat digunakan untuk mengisi dan memperbaharui sel jaringan yang rusak akibat berbagai penyakit degeneratif, autoimun dan keganasan; misalnya, memperbaiki sel otot dan jaringan jantung yang mati pada pasien serangan jantung, menumbuhkan sel pada jaringan otak atau saraf dan pembuluh darah baru pada pasien stroke, memperbaharui organ ginjal yang rusak, terapi anti penuaan dan mengganti kulit pada pasien luka bakar.

 

Jika diterapkan dengan optimal, penemuan sel punca pada tubuh manusia memberikan harapan baru bagi pengobatan penyakit regeneratif dan penyakit yang tidak ada obatnya, seperti kanker, autoimun, kerusakan syaraf tulang belakang, sakit persendian, diabetes, cerebral palsy, alzheimer, penyakit jantung, penyakit kelainan genetik dan lain-lain.


 

Editor: Rosyid

Share this article