TAR Dinilai Jauh Lebih Bahaya Dibanding Nikotin

 

Ilustrasi. (GATRA/FT02)

Jakarta, Gatra.com - Pengetahuan masyarakat di Indonesia mengenai bahaya rokok masih sering salah kaprah karena lebih banyak mengkhawatirkan bahaya nikotin daripada TAR. Koalisi Indonesia Bebas TAR (KABAR) mengutarakan bahwa kesalahpahaman ini menghawatirkan.

 

“Selama ini, orang lebih banyak mendiskusikan mengenai bahaya nikotin yang menyebabkan kecanduan. Padahal, TAR jauh lebih berbahaya karena mengandung zat-zat karsinogenik yang dihasilkan dari pembakaran rokok,” ujar Prof. Achmad Syawqie, Ketua KABAR yang juga merupakan Guru Besar di Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Padjajaran Bandung dalam keterangan tertulis yang diterima, Rabu (8/11).

 

Dirinya mengaku khawatir pengetahuan yang rendah ini berakibat pada kesalahpahaman masyarakat dalam menentukan pilihannya, utamanya yang berkaitan dengan dampak dari produk tembakau.

 

“Apakah mereka akan tetap mengonsumsi produk tembakau yang dibakar, atau mempertimbangkan untuk beralih pada produk tembakau alternatif yang tidak menghasilkan TAR,” ujarnya.

 

Berangkat dari kekhawatiran tersebutlah KABAR dibentuk. Koalisi ini dipelopori oleh sejumlah asosiasi dan organisasi yang menaruh perhatian khusus terhadap bahaya TAR terhadap kesehatan publik. KABAR dibentuk untuk mencari solusi terbaik dalam mengatasi dampak buruk TAR dengan cara mengedukasi publik mengenai bahaya TAR, salah satunya berasal dari rokok yang dikonsumsi dengan dibakar.

 

Koalisi ini beranggotakan Yayasan Pemerhati Kesehatan Publik (YPKP), Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI), Tar Free Foundation, Asosiasi Personal Vaporizer Indonesia (APVI), Perhimpunan Dokter Kedokteran Komunitas dan Kesehatan Masyarakat Indonesia (PDK3MI), serta Perhimpunan Onkologi Indonesia (POI).

 

Mengingat pentingnya akses informasi berbasis penelitian ilmiah dan pengembangan teknologi, KABAR juga meluncurkan situs www.no-tar.org, sebuah platform digital yang akan digunakan untuk menyuguhkan kajian-kajian ilmiah, data, dan informasi produk tembakau alternatif. Dengan demikian, diharapkan muncul kesadaran untuk mulai mempertimbangkan penggunaan produk tembakau alternatif dengan risiko lebih rendah.

 

KABAR berkomitmen untuk menjadi bagian dari solusi atas permasalahan dampak rokok bagi kesehatan, dengan mengedepankan informasi berbasis penelitian ilmiah dan teknologi demi mengatasi dampak buruk TAR melalui produk tembakau alternatif.

 

“Di negara-negara maju, mereka melakukan berbagai penelitian dan pengembangan atas produk tembakau alternatif yang memiliki tingkat bahaya yang lebih rendah guna mencari solusi bagi para perokok. Kami berharap KABAR bisa memberikan kontribusi dan mendorong berbagai pihak untuk melakukan penelitian dan kajian ilmiah yang sama demi menurunkan risiko kesehatan masyarakat akibat TAR,” jelas Syawqie.

 

Syawqie kemudian mencontohkan, pada 2015, agensi kesehatan di bawah Kementerian Kesehatan Inggris Raya Public Health England merilis hasil riset yang menunjukkan bahwa produk nikotin yang dipanaskan menurunkan risiko hingga 95% dari rokok yang dikonsumsi dengan cara dibakar.

 

“Informasi seperti inilah yang perlu disampaikan kepada masyarakat agar mereka mendapatkan akses atas informasi berbasis penelitian ilmiah sehingga nantinya mereka dapat menentukan pilihannya,” tambahnya.

 

APVI, salah satu anggota KABAR yang mewakili suara konsumen, juga mengungkapkan kekhawatiran yang sama mengenai minimnya pengetahuan dan pemahaman masyarakat, khususnya bagi pemerintah, perokok, dan penggiat kesehatan publik mengenai penelitian-penelitian yang mengarah pada produk tembakau alternatif dengan bahaya yang lebih rendah.

 

“Sebagai konsumen, tentunya saya memiliki hak untuk menentukan pilihan saya dalam mengonsumsi produk tembakau dengan bahaya yang lebih rendah,” ujar Aryo Andrianto, ketua APVI. 

 

Terkait ini, Aryo juga mempertanyakan pernyataan Kementerian Perdagangan dan Kementerian Kesehatan yang bermaksud melarang peredaran dan konsumsi produk tembakau alternatif, di antaranya vape dan rokok elektrik.

 

“Kebijakan pemerintah yang condong terburu-buru hendak melarang tanpa melakukan kajian dan penelitian secara menyeluruh, menunjukkan minimnya pemahaman dan informasi terkait perkembangan teknologi dan penelitian ilmiah mengenai produk tembakau alternatif,” tambahnya.

 

Untuk itu, KABAR mendorong pemerintah untuk segera melakukan penelitian ilmiah, berdiskusi dengan para peneliti yang mendalami produk tembakau alternatif di Indonesia, serta mendalami berbagai penelitian yang dilakukan oleh pakar atau organisasi independen dari berbagai negara. Hal ini penting dilakukan agar pemerintah bisa mendapatkan informasi yang akurat demi menentukan kebijakan yang tepat.

 

“Kami setuju bahwa produk tembakau alternatif harus segera diregulasi, diantaranya agar tidak dikonsumsi oleh anak-anak. Namun demikian, wacana pelarangan bukanlah keputusan bijaksana, mengingat banyaknya penelitian dan pengembangan produk yang menunjukkan adanya pengurangan bahaya produk tembakau jika tidak dibakar. Jika produk ini dilarang, maka Pemerintah menutup akses konsumen untuk memilih produk dengan tingkat resiko yang lebih rendah. Untuk itu, kami siap berdialog dengan Pemerintah dan memberikan masukan mengenai hal ini,” papar Aryo.

 

Dia berharap, informasi dan edukasi yang disajikan oleh KABAR akan membuka wawasan perokok tentang pilihannya dan dalam jangka panjang akan berdampak positif bagi kesehatan masyarakat Indonesia.

 

 

 

Reporter: Didi Kurniawan

Share this article