Berawal dari Batuk, Menjadi Kanker Paru-Paru

okter Achmad Hudoyo sedang memberikan pemaparannya mengenai kanker paru-paru (GATRA/ASH/FT02)

Jakarta, Gatra.com-Jangan sepelekan batuk, apalagi bila berlangsung lama dan sampai mengeluarkan bercak darah. Lebih baik diperiksakan ke dokter spesialismkarena ternyata, kanker paru adalah salah satu kanker yang sulit terdeteksi dari awal.

Sekitar dua bulan lalu Lina terdeteksi terkena kanker paru-paru. Bahkan stadiumnya sudah mencapai stadium 4. Wanita berusia 70 tahun ini awalnya tidak merasakan gejala yang serius. Hanya mengeluhkan batuk yang tak kunjung sembuh. Akhirnya berobat ke spesialis paru-paru dan akhirnya ditemukan sel kanker.

Sempat panik dan ketakutan, anak laki-lakinya memberinya semangat. “ Mami harus kuat,” katanya sambil selalu berusaha menenangkan. Ditambah lagi ucapan yang dilontarkan oleh anak perempuan yang juga mendorong Lina untuk sembuh.

Ketika sakit, wanita dua orang anak ini menjadi jarang beraktivitas seperti biasanya. Padahal terkenal sebagai sosok yang bermasyarakat. Saat mendengar kabar, rekan Lina menjadi kaget. Mereka berkata agar selalu optimis untuk sembuh dan percaya pada Tuhan. Saat sakit itulah, menjadi ada kekuatan. Kemudahan-kemudahan berdatangan. Lina tidak sampai melakukan kemoterapi dan hanya mengkonsumsi obat. Kondisinya pun kini mulai membaik.

Bertempat di rumah singgah kanker CISC pada Sabtu (11/11), pasien kanker paru-paru tersebut menceritakan pengalamannya. Ada beberapa penderita kanker yang juga berkumpul untuk saling sharing. Tak hanya itu, terdapat pemaparan mengenai penyakit kanker paru-paru mulai dari penyebab hingga pengobatannya oleh dokter spesialis paru-paru RS Pondok Indah, Achmad Hudoyo.

“ Orang-orang banyak mengatakan penyebabnya kerena rokok, padahal rokok hanya resiko. Lebih pada asap dan zat radioaktif dari perut bumi. Rokok juga mengandung zat-zat beracun dan zat tersebut berbahaya,” katanya.

Pada stadium awal, biasanya tidak menunjukkan gejala dan menyebabkan keterlambatan dalam deteksi. Ini karena paru tidak memiliki syaraf sehingga termasuk salah satu penyakit yang sulit untuk didiagnosis. Bila muncul gejala, salah satunya yaitu batuk kronik dan terkadang mengeluarkan darah.

Ketika membahas mengenai batuk, ada hal yang serupa dengan gejala TBC. Padahal kedua penyakit ini berbeda. Menurut dokter spesialis paru-paru tersebut, yang membedakan pada seberapa banyak darah yang keluar saat batuk. Pada penderita kanker paru-paru, darah  dikeluarkan lebih sedikit bahkan hanya berupa bercak saja. Berbeda dengan TBC yang mengeluarkan banyak darah.

Mengenai pengobatan ada beberapa jenis seperti pembedahan, radioterapi, kemoterapi, terapi-target dan sebagainya. Katagori berdasarkan stadium. Pada pembedahan biasanya dilakukan pada pasien stadium 1 atau 2. Sedangkan pada pasien stadium 4 diberikan terapi target.

“ Terapi target ini, ada target tertentu dengan pemberian obat tablet atau oral. Biasanya obat EGFR. Responnya lebih dari 70%.  Meskipun begitu, perlu juga mencocokan obatnya. Efek sampingnya seperti timbul jerawat, kulit kering dan diare,” katanya.


 

Reporter: ASH

Editor : Bernadetta Febriana

Share this article