Perlu Teknologi Baru Untuk Menangani Bayi Prematur

Dr Rinawati dan Nilesh saat jumpa pers. (GATRA/ARK/FT02)

Jakarta, Gatra.com -- Angka kematian bayi (AKB) di Indonesia masih terbilang tinggi. Menurut data Badan Pusat Statistik 2016, dari setiap 1.000 bayi lahir, ada 25 bayi yang meninggal. Sebagian dari mereka meninggal karena belum cukup umur.


Dalam jumpa pers menyambut Hari Prematuritas Sedunia yang digelar di Hotel Fairmont, Senayan, Jakarta Pusat (14/11/2017), Dr dr Rinawati Rohsiswanto, dokter spesialis anak yang berpraktek di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta Pusat, mengatakan bahwa perlu penanganan khusus untuk bayi prematur.

Kematian bayi bisa dihindari bila dokter mampu memberikan penanganan yang baik. “Sebab, perawatan bayi prematur dikategorikan cukup rumit, karena tingginya risiko yang dapat terjadi di awal kehidupan bayi tersebut,” ujar Rinawati.

Untuk itu, ia meminta agar para dokter memiliki pengetahuan yang luas, kesaraban serta ketrampilan dari orang yang menanganinya. “Di samping itu, perawatan bayi prematur terkadang membutuhkan sarana yang lengkap dan teknologi yang canggih dalam ruang perawatan NICU (neonatal intensive care unit),” katanya.

Dalam kaitan itu, General Electric Indonesia mengembangkan inkubator baru yang lebih lengkap dan memudahkan bagi dokter atau perawat. Selain itu, bayi juga dapat tumbuh dengan normal dan sehat. “Kami berkomitmen meningkatkan kesehatan melalui portofolio produk-produk perawatan ibu dan anak,” tutur Nilesh Shah, General Manager of Clinical Care Solutions, GE Healthcare Africa, India and Southeast Asia. Tujuannya, menyediakan solusi mengurangi angka kematian bayi di Indonesia.

Peralatan tersebut tersedia di sejumlah rumah sakit umum daerah di sejumlah provinsi, seperti Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Bangka Belitung, Riau, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Barat.



Reporter: Aries Kelana

Editor: Aries Kelana

 

 

Share this article