Transaksi Obat Melalui E-Katalog 2017 Mencapai 18 Trilyun

Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek. (Antara/Wahyu Putro A/AK9)

Jakarta, Gatracom - Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek mengatakan, pengadaan obat dengan prosedur e-purtchasing berdasarkan e-katalog dapat meningkatkan efisiensi, efektivitas dan transparansi dalam proses pengadaan obat di Tanah Air. Sehingga dengan e-katalog dapat meminimalisir potensi korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) di kalangan dokter maupun rumah sakit.


"Suplier saat ini sedang kita dorong lewat e-katalog berikut pencantuman harganya, sehingga lebih banyak obat generik dengan harga lebih murah," kata Menkes seperti dilansir laman Antara, Jumat (24/11).

Menurut dia, oknum dokter yang sebelumnya bisa 'memainkan' harga pasaran obat, sudah tertutup kemungkinannya, karena harga yang tercantum dalam e-katalog dapat diakses masyarakat luas dan terawasi oleh Kemenkes.

"Dokter sudah tidak mungkin lagi melakukan gratifikasi. Sistem ini bagus karena rumah sakit dapat memantau fluktuasi harga pasaran yang terbuka secara umum," jelas Menkes.

Pihaknya mencatat transaksi pengadaan obat melalui sistem elektronik katalog (e-katalog) pada 2017 mencapai total Rp18 trilyun. "Pembelian e-katalog sudah tembus Rp18 trilyun. Ini merupakan sistem yang bagus karena terbuka untuk umum," tambah Menkes.

Menurut dia, transaksi e-katalog yang meningkat pesat ada pada jenis obat-obatan generik karena harganya yang berada di bawah harga obat paten.

"Indonesia merupakan populasi penduduk yang tergolong besar, pasti pemakai layanan akan meluas. Untuk farmasi kita mendorong dapat mandiri dan membuat obat-obatan yang layak dipakai masyarakat. Obat generik pun memiliki kasiat yang sama dengan obat paten," katanya.


Reporter: DPU
Editor: Arief Prasetyo

Share this article