Epidemi Diabetes di Indonesia Melambat

Prosesi peluncuran program Indonesia Mampu – Cegah Diabetes dan Hipertensi yang diresmikan oleh (dari kiri ke kanan), Morten Vaupel, Vice President & General Manager Novo Nordisk Indonesia; Lars Rokke Rasmusen, Perdana Menteri Denmark;  Nila F Moeloek, Menteri Kesehatan RI; Rasmus Abildgaard Kristensen, Ambasador Kedutaan Besar Denmark untuk Indonesia; dr. Untung Suseno Sutarjo, M. Kes, Sekretaris Jenderal, Kementerian Kesehatan. (GATRA/Novo Nordisk/AK9)

Jakarta, Gatra.com - Kementrian Kesehatan bersama perusahaan kesehatan global Novo Nordisk menyelenggarakan Simposium Hari Diabetes Sedunia untuk memperingati Bulan Diabetes. Simposium ini mengangkat tema  'Woman and Diabetes, Our Right to a Healthy Future. Tema tersebut dipilih karena dewasa ini ada lebih dari  199 juta wanita yang hidup dengan diabetes di dunia dan diproyeksikan akan meningkat menjadi 313 juta pada tahun 2040. Selain itu, diabetes merupakan penyebab utama kematian  urutan ke-9 pada wanita di dunia  dengan  2,1 juta kematian setiap tahunnya. Artinya,  ada 1 di antara 7 kelahiran dipengaruhi oleh Diabetes Gestasional.



Di Indonesia, epidemi diabetes melambat setelah sebelumnya melonjak cepat.  Data IDF Diabetes Atlas yang dikeluarkan setiap 2 tahun menunjukkan peningkatan jumlah penyandang diabetes yang  cukup tajam, sejak tahun 2011 yaitu 7,3 juta orang, 2013 (8,5 juta) dan 2015 (10 juta). Pelambatan baru terjadi pada tahun 2017 (10,3 juta).

Dalam simposium yang dihadiri oleh Menteri Kesehatan serta para Pejabat Eselon 1 dan 2 di Lingkungan Kementerian Kesehatan, Sebnem Avsar Tuna, Corporate Vice President of Oceania and Southeast Asia, Novo Nordisk mengatakan, “Berdasarkan Blueprint for Change di tahun 2013 kami menemukan empat isu utama diabetes yang terjadi di Indonesia. Dengan mempelajari keempat isu utama tersebut, kami yakin dapat membantu menurunkan jumlah kasus diabetes di Indonesia.”

Ke-empat isu itu yang pertama, rendahnya kesadaran masyarakat terhadap penyakit diabetes secara menyeluruh. Kedua, ketidakseimbangan pasokan maupun permintaan akan layanan kesehatan akibat populasi pasien yang menyebar dan dihadapkan dengan spesialis penyakit diabetes yang sangat terbatas. Ketiga, kurangnya sumber daya dalam sistem kesehatan masyarakat di Indonesia. Terakhir, masih rendahnya jumlah masyarakat yang menerima pengobatan dan insulin yang tepat sehingga mengakibatkan minimnya kualitas pengobatan diabetes.

Novo Nordisk secara terus-menerus menganjurkan pencegahan dan pengobatan diabetes yang lebih baik terutama di Indonesia melalui 4 pilar, yaitu Kolaborasi dengan pemerintah, Peningkatan kapasitas profesional kesehatan, edukasi terhadap pasien, dan peningkatan Kesadaran akan penyakit Diabetes. “Di Indonesia, kami berupaya untuk bermitra dengan Kementerian Kesehatan, Pemerintah Daerah, dan juga para pembuat kebijakan lainnya dalam memerangi diabetes,” tambah Sebnem Avsar Tuna melalui keterangan tertulis yang diterima Gatra.com, Rabu (29/11).





Editor: Rosyid

Share this article