Wabah Difteri, Kemenkes: Imbau Masyarakat Jaga Hidup Bersih

Ilustrasi. (Shutterstock/Jarun Ontakrai/AK9)

Jakarta, Gatracom - Penyakit difteri kini menyerang Indonesia. Kementerian Kesehatan sudah menetapkan kategori penyakit ini sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB). Bahkan, penyakit ini sudah mewabah ke-95 kabupaten/kota dari 20 provinsi di Indonesia.


Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Oscar Primadi mengimbau kepada masyarakat untuk melakukan pencegahan dengan menjaga perilaku hidup bersih dan sehat. Seperti menggunakan masker bila seseorang sedang terserang batuk.

Penyakit difteri ini muncul disebabkan oleh kuman Corynebacterium diptheriae. Penyebarannya dapat melalui mulut dan hidung orang yang terinfeksi, handuk yang terkontaminasi, dan susu yang terkontaminasi penderita. Oleh karena itu imunisasi sangat penting sebagai upaya pencegahan.

“Masyarakat perlu mendukung dan bersikap kooperatif jika di tempat tinggalnya diadakan ORI (Outbreak Response Immunization) oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat,'' kata Oscar.

Kejadiannya ini terbilang cepat karena tergolong penyakit menular. Yang lebih mengkhawatirkan lagi penyakit difteri menyerang orang yang tidak mempunyai kekebalan, terutama anak-anak.

Gejalanya berupa demam yang tidak begitu tinggi, suhu hanya 38 C. Kemudian muncul selaput di tenggorokan yang berwarna putih ke abu-abuan. Selaput ini menimbulkan rasa sakit saat menelan dan akan berdarah ketika dilepas. Terkadang bahkan disertai pembesaran kelenjar getah bening leher dan sering sesak nafas.

Terpisah, Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Mohamad Subuh dalam keterangan pers pada Rabu (6/12) melakukan kesepakatan ORI dengan tiga kepala Dinas Kesehatan Provinsi yaitu Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat.


Rencananya Dinas Kesehatan akan melakukan ORI pada akhir tahun 2017. Mengingat ketiga provinsi itu memiliki kasus penderita penyakit difteri terbanyak, bahkan menyerang kelompok dewasa. Meskipun kasus terbanyak berada di Jawa Timur, namun daerah itu sudah terlebih dahulu melakukan ORI.

“Tingkat penularan sangat tinggi, oleh karena itu harus dilakukan ORI. Pemberian imunisasi ulang secara massal kepada seluruh wilayah yang terdapat kasus difteri,” ucap Mohamad Subuh.


Reporter: ASH
Editor: Arief Prasetyo

Share this article