Bagaimana Virus Hepatitis B Menipu Sehingga Salah Deteksi?

Mumi anak terserang HBV. (Dok. University of Pisa/Gino Fornaciari)

Jakarta Gatra.com - Sebuah tim ilmuwan berhasil mengurutkan gen lengkap strain kuno virus Hepatitis B (HBV), yang memberikan pengetahuan baru pada patogen yang menyebar luas, kompleks, dan mematikan itu. HBV membunuh hampir satu juta orang setiap tahunnya. Sementara sedikit yang diketahui sejarah evolusioner dan asal usulnya. Temuan tersebut mengonfirmasi gagasan bahwa HBV telah ada pada manusia selama berabad-abad.


Temuan itu berdasarkan pada data genomik yang diambil dari sisa mumi anak kecil yang dikubur di Basilika Saint Domenico Maggiore di Naples, Italia. Analisis ilmiah sebelumnya dari abad ke-16 --yang tidak termasuk pengujian DNA-- menyarankan anak tersebut terinfeksi virus Variola atau cacar. Sebenarnya, ini adalah bukti tertua adanya cacar di Abad Pertengahan, dan merupakan jejak waktu kritis untuk mengetahui asal-usulnya.

Dengan menggunakan teknik sekuensing yang canggih, peneliti sekarang menyarankan sebaliknya. Anak tersebut terinfeksi HBV. Menariknya, anak-anak yang terinfeksi HBV dapat mengalami ruam wajah, yang dikenal dengan sindrom Gianotti-Crosti. Ini mungkin yang menimbulkan salah identifikasi sehingga dikira cacar. Ini menggambarkan salah identifikasi penyakit menular di masa lalu.

Temuan ini dipublikasikan secara online di jurnal PLOS Pathogens awal tahun ini. "Data ini menekankan pentingnya pendekatan molekuler untuk membantu mengidentifikasi keberadaan patogen kunci di masa lalu, yang memungkinkan kita untuk membatasi waktu mereka menginfeksi manusia dengan lebih baik," jelas Hendrik Poinar, ahli genetika evolusioner dari McMaster Ancient DNA Center.

Dengan menggunakan sampel jaringan kulit dan tulang yang kecil, para ilmuwan dapat mengekstrak fragmen DNA yang kecil dan kemudian menyusun potongan-potongan informasi genetik untuk menciptakan gambaran yang lebih lengkap. Sementara virus sering berkembang dengan sangat cepat - kadang-kadang hanya dalam beberapa hari - periset menyarankan bahwa strain HBV kuno ini telah berubah sedikit selama 450 tahun terakhir, dan evolusi virus ini rumit.

Sementara tim menemukan hubungan yang erat antara strain HBV kuno dan modern, keduanya kehilangan apa yang dikenal sebagai struktur temporal. Dengan kata lain, tidak ada tingkat evolusi yang terukur sepanjang periode 450 tahun yang membedakan contoh virus dari mumi dan sampel modern.

Lebih dari 350 juta orang yang hidup hari ini dengan infeksi HBV kronis. Sekitar sepertiga populasi global telah terinfeksi pada beberapa titik dalam kehidupan mereka. Periset menyarankan agar menggarisbawahi pentingnya mempelajari virus purba.

"Semakin kita mengerti tentang perilaku pandemi dan wabah masa lalu, semakin besar pemahaman kita tentang bagaimana patogen modern dapat bekerja dan menyebar, dan informasi ini pada akhirnya akan membantu dalam pengendaliannya," kata Poinar.


Editor: Rohmat Haryadi

Share this article