Retinopati Diabetik, Risiko Kebutaan bagi Penderita Diabetes Mellitus

Cek gula darah (Pixabay/yus4)

Jakarta, Gatra.com - Penyakit diabetes melitus (DM) ternyata berpotensi menyebabkan gangguan pembuluh darah retina mata. Gangguan ini disebut dengan retinopati diabetik (DR), yang menjadi penyebab kebutaan. Sebanyak 4,8% dari 37,2 juta penduduk dunia menderita retinopati diabetik.

Di Indonesia, berbagai penelitian menunjukkan bahwa angka kejadian retinopati diabetik pada penderita diabetes melitus sebanyak 23-36%. Berdasarkan data International Diabates Federation (IDF), jumlah penyandang diabetes di Indonesia diperkirakan sebesar 10 juta dan menempati urutan ketujuh tertinggi di dunia. Hal ini tentu berisiko terhadap indeks kesehatan Indonesia yang juga masih sangat rendah.

Salah satu cara menghindari gangguan penglihatan dan kebutaan akibat retinopati diabetik bisa dilakukan dengan skrining dan pemeriksaan mata berkala, sehingga mencegah penyandang diabetes melitus mengalami retinopati diabetik, terutama kondisi yang mengancam penglihatan (vision threatening DR) contohnya penebalan retina atau edema makula diabetik (DME).

Gitalisa Andayani dalam pengukuhan gelar doktor atas disertasinya di bidang ilmu kedokteran berjudul "Efek Fenofibrat Oral pada Ketebalan Retina dan Volume Makula: Kajian terhadap Disfungsi Endotel Vaskular Retina, Inflamasi dan Angiogenesis pada Retinopati Diabetik dengan Dislipidemia" di Auditorium Lantai 3 Gedung Imeri Universitas Indonesia, Salemba, pada Selasa (9/1) menjelaskan apa saja langkah pengobatan untuk mengatasi retinopati diabetik ini.

Antara lain perlu dilakukan pengobatan berupa terapi laser, injeksi Anti-VEGF (vascular endothelial growth factor) intraokulat atau pembedahan (vitrektomi). 

Berbagai studi membuktikan bahwa fenofibrat, yakni obat pengatur kadar lemak darah, dapat mencegah memburuknya retinopati diabetik, sehingga berpotensi menjadi terapi pendamping.

Pemberian fenofibrat diharapkan menurunkan kebutuhan untuk melakukan tindakan invasif pada penyandang retinopati diabetik. Fenofibrat merupakan obat dengan mengatur pada kadar lemak dara, terutama dengan menurunkan trigliserida dan kolesterol LDL, dan meningkatkan kolesterol HDL.

Fenofibrat juga memiliki mekanisme lain, antara lain dengan mencegah disfungsi endotel pembuluh darah, mengurangi peradangan serta mencegah timbulnya pembuluh baru abnormal.

“Kejadiannya bukan sesuatu yang cepat. Biasanya butuh waktu penderita diabetes lima tahun. Gula darah yang sering naik, pelan-pelan akan merusak pembuluh darah di mata,” jelas dokter Gitalisa dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Kirana.


Reporter : DFS

Editor : Mukhlison

Share this article