Home Ekonomi Pembangunan Tol Jokowi Tak Berpihak pada Petani

Pembangunan Tol Jokowi Tak Berpihak pada Petani

1356

Jakarta, Gatra.com - Indonesia Development and Islamic Studies (IDEAS) memaparkan hasil studinya yang menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur jalan yang masif di era pemerintahan Jokowi tidak berpihak kepada petani. IDEAS merupakan lembaga riset yang berfokus pada isu pembangunan. Hasil studi mereka menunjukkan jumlah sawah berkurang secara masif di Jawa akibat pembangunan tol.

"Secara prinsip kita sepakat bahwa transportasi amat penting, tapi jangan sampai pembangunan sara transportasi justru tidak berpihak kepada rakyat dengan menghabiskan secara masif lahan pertanian," kata Direktur IDEAS Yusuf Wibisono di kantornya, Jakarta, Senin (15/4).

IDEAS merekomendasikan pemerintah untuk mengalihkan pembangunan infrastruktur transportasi di Jawa dari jalan tol menjadi transportasi massal berbasis rel. Hal ini bukan tanpa alasan. Catatan IDEAS, ada 11 daerah yang kehilangan sawah secara masif dalam beberapa tahun terakhir, yaitu Banyuwangi, Bandung, Serang, Cirebon, Brebes, Sragen, Ngawi, Pemalang, Tegal, Nganjuk dan Semarang.

Periode 2015-2018, Selama IDEAS juga mengkalkulasi jumlah sawah yang hilang setara luas Kabupaten Sukabumi, yakni 49 ribu hektare. Yusuf menyebut saat ini masifnya pembangunan tol yang menghilangkan sawah sudah sampai pada isyarat lampu kuning. Apalagi, pembangunan tol masih akan terus dilakukan.

"Kalau masterplan pembangunan tol di tahun 2019 hingga 2022 dilanjutkan dengan total panjang jalan tol hingga 2500 kilo meter, akan hilang lebih dari 200.000 hektare sawah, setara Kabupaten Indramayu dan Karawang," paparnya.

Menurut Yusuf, kebutuhan pangan yang mendesak ditambah pula dengan persoalan hilangnya sawah, berpotensi mengancan lahan hutan akan dialih fungsikan menggantikan lahan sawah yang hilang. Pemerintah juga memiliki rencana Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) yang memindahkan pertanian dari Jawa ke luar Jawa. Padahal, Yusuf menilai struktur tanah dan kultur pertanian diluar Jawa berbeda sehingga pertanian tidak bisa semasif di Jawa.

"Dampak langsung dari berkurangnya sawah dan juga nanti hutan adalah bencana alam seperti banjir, sehingga lahan pertanian harus dipertahankan di Jawa," ujarnya.

 

COMMENTS

LEAVE A COMMENTS