Home Ekonomi Nilai Sustainable Development Project di Indonesia Mencapai US$31,460 Juta

Nilai Sustainable Development Project di Indonesia Mencapai US$31,460 Juta

1074

New York, Gatra.com – Kementerian PPN/Bappenas memprediksi, manfaat bonus demografi sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi akan memuncak pada 2030. Indonesia juga diprediksi akan meninggalkan middle income trap dan menjadi ekonomi tinggi pada 2034. Pada 2045, 100 tahun setelah kemerdekaan, Indonesia akan menjadi negara dengan ekonomi terbesar keempat.

World Economic Forum pada 2017 memprediksi Indonesia adalah kontributor pertumbuhan ekonomi dunia terbesar kelima setelah Tiongkok, Amerika Serikat, India, dan Euro Zone. Dalam periode 2017-2019, ekonomi global akan berkembang sebesar US$6,5 triliun, di mana Indonesia berkontribusi sebesar 2,5% terhadap perkembangan tersebut,” ujar Menteri PPN/Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro pada Breakfast Meeting “Sustainable Development Goals (SDGs) Investment Opportunities in Indonesia: Infrastructure and Social Sectors” di New York, Amerika Serikat, Selasa (16/4) waktu setempat

Dalam keterangan yang diterima Gatra.com, Rabu (17/4), disebut bahwa Indonesia juga telah bergabung dalam the Trillion Dollar Club Countries, yakni sebutan bagi negara dengan Produk Domestik Bruto di atas US$1 triliun per tahun. Dalam lingkup tersebut, Indonesia bersanding dengan Korea Selatan, Rusia, Spanyol, Australia, dan Meksiko. Mengacu pada besarnya PDB, Indonesia menempati peringkat ke-16 sehingga menjadi anggota negara-negara G20.

Baca Juga: Pakar Bisnis: IIS Jadi Roadmap Pengembangan Industri Indonesia Berbasis Teknologi

Terkait kemudahan melakukan bisnis atau Ease of Doing Business (EoDB), Indonesia telah menunjukkan kenaikan yang sangat signifikan. Fakta tersebut terlihat dari peringkat Indonesia yang melesat sebesar 34 basis poin, dari 106 ke 72 dalam kurun waktu dua tahun ini. Beberapa perubahan paling signifikan adalah Indonesia telah memperbaiki iklim bisnis, mengurangi prosedur perizinan dan mengimplementasikan sistem layanan daring, serta mengurangi regulasi yang tumpang tindih dengan melaksanakan manajemen risiko yang terintegrasi.

“Sejumlah agensi pemeringkat kredit seperti Japan Credit Rating, Moody, S&P, Fitch, telah memberikan Indonesia peringkat stabil dalam hal investment grade. Peringkat tersebut telah melebihi target investasi di Indonesia. Investasi di Q4 pada 2018 naik 7%, jika dibandingkan pada Q4 2017. Meskipun total investasi dari Januari hingga Desember 2018 hanya naik sedikit, sebanyak 4,1%,” jelasnya lagi.

Rasio utang Indonesia pun masih lebih baik dari rata-rata negara lain dengan kapasitas yang sama, yakni senilai 37,7%. Indonesia juga telah berkomitmen untuk memperbaiki iklim bisnis sejak 2015. Beberapa usaha yang telah dilakukan, diantaranya adalah implementasi One Stop Service yang mengintegrasikan layanan 21 kementerian/lembaga, menciptakan waktu tunggu maksimal tiga jam untuk terbitnya perizinan bagi investasi minimal Rp100 miliar, akselerasi kemudahan berusaha melalui Peraturan Presiden No. 91 Tahun 2017 tentang Percepatan Pelaksanaan Berusaha serta simplifikasi proses investasi dan impor, serta implementasi One Single Submission untuk perizinan investasi.

Baca Juga: Menperin: Indonesia Industrial Summit 2019, Tonggak Satu Tahun Making Indonesia 4.0

“Indonesia sangat serius dalam menerapkan pembangunan dengan prinsip berkelanjutan karena target dan indikator Sustainable Development Goals (SDGs) tak hanya menyasar pada pembangunan fisik semata, tetapi juga pembangunan sosial, manusia, budaya, dan lingkungan. Bukti keseriusan Indonesia salah satunya dibuktikan dengan nilai proyek pembangunan berkelanjutan Indonesia atau Indonesia's Sustainable Development Project 2018-2020 yang tercatat senilai US$31,460 juta,” sebutnya.

Nilai tersebut terbagi menjadi dua bagian, SDGs Business Opportunities dan SDGs Social Investments. SDGs Business Opportunities terdiri atas 20 proyek pembangunan jalan (US$23,4 juta), sembilan proyek transportasi (US$16,6 juta), tiga proyek penyediaan air (US$232 juta), tiga proyek kesehatan (US$107,7 juta), 11 proyek energi konservasi (US$1,333 juta), dua proyek telekomunikasi (US$875), dan tujuh proyek fasilitas (US$2,207 juta). Sementara itu, SDGs Social Investment memiliki sebelas proyek dengan nilai total US$8,018 juta.

 

 

 

COMMENTS

LEAVE A COMMENTS