Home Internasional Bangkrut, Jet Airways Menunggu Suntikan Dana

Bangkrut, Jet Airways Menunggu Suntikan Dana

521

New Delhi, Gatra.com - Jet Airways yang tengah berhenti beroperasi karena terlilit utang, kini sedang menunggu suntikan dana investor. Sambil menunggu dana segar, perusahaan maskapai swasta yang dulu memiliki nilai pasar terbesar di India tersebut melego beberapa asetnya kepada perusahaan lain di industri serupa. Beberapa pesawat disewakan ke kompetitor bisnis.

Maskapai lokal juga mengambil kesempatan terkait kondisi keuangan Jet Airways. Spice Jet Ltd membeli lebih dari selusin pesawat untuk rute yang sebelumnya diterbangi Jet Airways. Sementara maskapai IndiGo menambah jumlah penerbangan antara Mumbai dan New Delhi, rute tersibuk di India.

"Saya melihat bahwa peminjam uang tak yakin adanya penawaran yang serius. Mereka tidak bisa memarkir terus-menerus karena pesawat tidak dimiliki oleh Jet Airways. Mereka harus menemukan pembeli sesegera mungkin" ujar Harsh Vardan dari Starair Consulting.

Bangkrutnya Jet Airways turut mempersulit langkah Perdana Menteri India, Narendra Modi yang mencitrakan dirinya ramah bisnis untuk meneruskan periode kedua kekuasaannya.

Jet Airways, maskapai swasta tertua India mengoperasikan 124 pesawat. Perusahaan ini mempekerjakan sekitar 23 ribu orang. Maskapai ini membutuhkan dana US$1,2 miliar untuk melanjutkan operasinya. Sejauh ini, belum jelas apakah Jet Airways mendapat pembeli atau peminjam dana.

Selama akhir pekan, media lokal India ramai memberitakan bahwa pemilik Tata Group, Mukesh Ambani, berhasrat untuk membeli saham atau seluruh aset Jet. Tata Group kemungkinan bermitra dengan Etihad Airways yang memiliki 24% saham Jet Airways untuk membeli saham Jet. Ambani juga mencari kemungkinan untuk mendapat dana talangan (bail out) dari maskapai pemerintah, Air India.

"Penyewa (Jet Airways) harus membayar sewa dan meminta pemilik agar pesawatnya tak diambil alih selama proses pengambilalihan perusahaan. Mereka juga harus menyusun rencana pembayaran selama 18 minggu mendatang, namun tidak dilakukan" ujar pendiri Martin Consulting, Mark Martin.

 



Sumber: Bloomberg

 

 

COMMENTS

LEAVE A COMMENTS