Home Teknologi Kurangi Resiko Gempa di Sulawesi, Tim Ekspedisi Palu-Koro Luncurkan Buku Hasil Ekspedisi

Kurangi Resiko Gempa di Sulawesi, Tim Ekspedisi Palu-Koro Luncurkan Buku Hasil Ekspedisi

1110

Jakarta, Gatra.com - Ekspedisi Palu-Koro yang telah berlangsung selama 3 tahun akhirnya selesai dan menghasilkan sebuah buku literasi kebencanaan yang berkontribusi mengurangi resiko gempa di Sulawesi.

Ketua Tim Ekspedisi Palu-Koro Trinirmala Ningrum yang akrab disapa Rini mengungkapkan ekspedisi Palu-Koro dipersiapkan dalam waktu yang cukup panjang, dimana sejak tahun 2011 bersama dengan berbagai pihak ia telah membincangkan seputar sesar Palu-Koro.

"Harus ada upaya mengingatkan masyarakat, ibaratnya kita di Indonesia ini berada di telur rentan pecah yang bisa pecah tanpa tahu pasti kapan waktunya, ekspedisi ini bagian dari ikhtiar peringatan itu," ungkap Rini dalam Peluncuran Buku Ekspedisi Palu-Koro di Perpustakaan Nasional di Jakarta Pusat, Selasa (23/4).

Sementara Direktur Pemberdayaan Masyarakat BNPB Lilik Kurniawan mengapresiasi upaya swadaya dari berbagai elemen masyarakat tersebut, hasil dari ekspedisi tersebut menurutnya berkontribusi besar bagi literasi kebencanaan di Indonesia.

"Indonesia itu laboratorium bencana, perlu upaya untuk kemudian dituliskan, dipahamkan ke semua pihak, tidak hanya masyarakat tapi juga pemerintah," ungkap Lilik.

Menurut Lilik saat ini belum banyak literasi kebencanaan di Indonesia, ia berharap setelah ini Ekspedisi Palu-Koro akan menginspirasi hal serupa di tempat lain.

Kemudian pakar dari Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Dr Safri Burhanuddin menegaskan bahwa upaya pengurangan resiko bencana masih menjadi cara yang paling efektif dalam menghadapi gempa.

Menurutnya, masyarakat harus menyadari bahwa ia tinggal diatas area rawan gempa dan mengetahui upaya apa yang perlu dilakukan bdalam menghadapi gempa.

"Pengurangan Resiko Bencana masih jadi yang paling efektif sebab memperkirakan gempa dengan presisi ilmu manusia belum bisa, sambil nanti paralel para ilmuwan mencari metode yang lebih tepat, masyarakat harus mawas dan arif dalam menghadapi gempa," jelas Burhanuddin.

Buku Ekspedisi Palu-Koro tersebut merekam sesar Palu-Koro dari berbagai aspek mulai dari geologi, ekologi, arkeologi hingga antropologi.

"Kalau sekedar geologi tidak hidup, tidak bunyi kalau tidak bergabung dengan ilmu lain, maka kita juga masukkan perspektif ekologi, arkeologi dan antropologi," ujar Rini.

Kemudian dari perspektif antropologi dan Kebudayaan, penulis asal Palu Neni Muhidin memotret tradisi di masyarakat yang menunjukkan edukasi terhadap kerawanan gempa.

"Ada pengetahuan lokal tentang gempa yang diproduksi lewat syair kayori dari Suku Kaili, sayangnya lama kelamaan syair ini tidak hidup di masyarakat dan hilang sehingga masyarakat di Sulteng lupa kalau dulu nenek moyang telah memberi peringatan," jelas Neni.

 

 

 

COMMENTS

LEAVE A COMMENTS