Home Kesehatan Jadi Saksi Pilpres di Gunungkidul, Nardi Sesak Nafas Sejak Coblosan

Jadi Saksi Pilpres di Gunungkidul, Nardi Sesak Nafas Sejak Coblosan

823

Gunungkidul, Gatra.com - Bukan hanya petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) yang menjadi 'korban' meninggal dan sakit karena gelaran Pemilu 2019. Saksi parpol dari Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, pun ikut sakit karena mengikuti proses pemungutan suara pada 17 April lalu.

Hal ini dialami Nardi, 44 tahun, seorang saksi dari parpol yang khusus ditugaskan mengawasi proses pemilihan presiden dan wakil presiden. Ia bertugas di TPS 11 Pedukuhan Singkar Satu, Kelurahan Wareng, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Gunungkidul.

Nardi mengatakan, ia bekerja sejak pukul 07.00 WIB pada Rabu (17/4) saat pemungutan suara dimulai. Ia bertugas sampai selesai penghitungan suara pilpres pada pukul 02.00 WIB, Kamis (18/4).

Padahal, sebelumnya ia diminta menjadi saksi hingga seluruh penghitungan suara selesai. Namun, ia menolak dan meminta pulang. Bukan hanya karena penghitungan hasil pilpres telah usai, saat itu ia juga mulai merasa tak enak badan.  

"Saya tertarik saat ditawari jadi saksi karena biasanya ketika pemilu jam lima (sore) penghitungan suara sudah selesai. Tapi ternyata kemarin saya hampir 24 jam kerja," kata Nardi kepada Ridho Hidayat dari Gatra.com, Kamis (25/4).

Sepanjang menjalankan tugas, meski jatah makan terpenuhi, Nardi sama sekali tak mendapat jeda istirahat apalagi tidur sejenak. Akibatnya, usai menjalankan tugas sebagai saksi, ia pun mengeluhkan tidak enak badan dan dada terasa sesak. Karena khawatir kondisinya semakin turun, ia memeriksakan diri ke dokter umum.

"Sampai sekarang dada masih agak sakit. Saya disuntik dokter dua kali dan ke tempat pijat sekali," ucapnya. Meski merokok, Nardi bilang sebelumnya ia tak pernah mengalami masalah pernafasan.

Upaya pengobatan Nardi menghabiskan biaya Rp110 ribu, yakni untuk ke dokter Rp60 ribu dan pijat Rp50 ribu. Sedangkan upahnya sebagai saksi parpol Rp250 ribu.

Saat dikonfirmasi secara terpisah, Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Gunungkidul, Ahmadi Ruslan Hani, mengakui sejumlah petugas dan saksi yang kelelahan usai bertugas saat hari pemilu.

Anggota KPPS yang harus dibawa ke rumah sakit antara lain Supriyadi, 43 tahun. Ia bertugas di TPS 01 Umbulrejo Kecamatan Ponjong dan masuk rumah sakit Panti Rahayu, Kelor.

Azef Kurniawan, 26 tahun, anggota KPPS di TPS 10 Katongan, Kecamatan Nglipar, juga dibawa ke rumah sakit. "Tapi sudah diperbolehkan pulang," kata Ahmadi.

Adapun petugas KPPS yang meninggal adalah Gunawan, 50 tahun, warga Pedukuhan Sambirejo, Desa Semanu, Kecamatan Semanu. "Beliau sedang diupayakan mendapat santunan," ujarnya.

Menurut Ahmadi, peristiwa tumbangnya sejumlah petugas dan saksi pemilu ini akan menjadi catatan tersendiri. Semua kejadian dilaporkan ke KPU RI sebagai bahan evaluasi. 

 

COMMENTS

LEAVE A COMMENTS