Home Teknologi Sistem Peringatan Bencana di Bantul Jadi Contoh Nasional

Sistem Peringatan Bencana di Bantul Jadi Contoh Nasional

1324

Bantul, Gatra.com – Hingga tahun depan, sistem peringatan bencana secara dini atau Early Warning System (EWS) di sepanjang pantai selatan Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, menjadi proyek percontohan nasional. Sistem ini menjadi rujukan 30 pakar kebencanaan dari negara-negara Asia Tenggara.

Hal ini disampaikan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul Dwi Daryanto di sela simulasi kesiagaan posko bencana di Tempat Evakuasi Sementara (TES), Pantai Kuwaru, Poncosari, Srandakan, Bantul, Jumat (26/4).

“Ini kabar baik bagi Bantul. Ini bertepatan dengan puncak Hari Peringatan Kesiapsiagaan Bencana yang jatuh hari ini dan bersamaan dengan kunjungan dari pakar bencana negara Asia Tenggara,” jelasnya.

Dwi menjelaskan keputusan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menjadikan Bantul sebagai proyek percontohan itu karena Bantul berhasil mengajak masyarakat berpartisipasi meningkatkan kesadaran atas ancaman bencana.

EWS di Pantai Kuwaru dipasang usai gempa pada 2006 di sepanjang pantai dari Parangtritis sampai Pantai Baru. Delapan perangkat EWS ini selalu siaga dan dihubungkan dengan 24 tempat ibadah.

“Sistem ini membuat sinyal peringatan dini datangnya bencana tsunami didengar masyarakat meski jauh dari EWS. Target awalnya adalah kawasan pantai selatan pulau Jawa, baru kemudian di seluruh wilayah,” kata Dwi.

Selain terus menumbuhkan kesadaran dan kewaspadaan warga, BPBD Bantul juga mengantisipasi bencana di kawasan pantai selatan dengan mengubah peruntukan kawasan. Saat ini pengembangan sabuk hijau menjadi prioritas.

Simulasi posko kebencanaan ini melibatkan relawan tanggap bencana di tingkat desa dan aparat dari kepolisian, militer, dan pemuka masyarakat. Simulasi ini berlangsung sekitar satu jam dan dipantau oleh para tamu.

"Kegiatan ini untuk melatih kesiapan petugas dalam menyelamatkan warga yang terdampak gempa dan tsunami di kawasan pantai. Selain itu, simulasi ini juga untuk mengantisipasi dan menghadapi kemungkinan terburuk jika tiba-tiba terjadi gempa yang berpotensi tsunami di Bantul," ujarnya.

Koordinator Resilience and Costal Tourism in South-East Asia Bambang Sunaryo menjelaskan 30 orang datang dari negara-negara Asia Tenggara  yang memiliki pantai tujuan wisata dan memiliki resiko terjadi tsunami mengikuti simulasi ini.

"Dengan mengikuti simulasi ini mereka bisa menilai kesiapan menghadapi bencana di Bantul dan harapan mereka diaplikasikan di negaranya," ucapnya.

 

COMMENTS

LEAVE A COMMENTS