Home Politik Dianggap Curangnya Keterlaluan, Rizal Ramli Ajukan Audit Forensik Surat Suara

Dianggap Curangnya Keterlaluan, Rizal Ramli Ajukan Audit Forensik Surat Suara

Jakarta, Gatra.com - Anggota Dewan Penasehat Badan Pemenangan Nasional (BPN), Rizal Ramli mengatakan bahwa kecurangan paling besar yang terjadi dalam proses penginputan surat suara terjadi pada sistem backend. 

Rizal Ramli pun meminta untuk dilakukan audit forensik kepada Sistem Perhitungan Suara (Situng) milik Komisi Pemilihan Umum (KPU).

“Sebetulnya kalau mereka (KPU) mau jujur dan profesional, izinkan kita semua mengaudit forensik. Karena bisa ketahuan siapa saja yang mengakses itu semua. Siapa yang masuk ke sistem, jam berapa dan apa yang dilakukan. Itu semua dapat diungkap,” katanya saat menghadiri konferensi pers terkait pengungkapan fakta-fakta kecurangan yang terjadi terkait pemilihan presiden 2019, di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta pada hari Selasa (14/5).

Menurutnya pihak KPU tidak mau melakukan audit forensik dikarenakan hal itu dapat mengungkap kecurangan yang dialami oleh BPN. Oknum yang melakukan kecurangan tersebut dapat ditindak secara pidana kurungan dan denda.

“Mengapa mereka tidak mau kita audit forensik, karena itu akan membuka semua kecurangan. Ada UU pemilu tahun 2017 jika ada satu suara saja yang dihilangkan, yang bersangkutan bisa kena hukuman 4 tahun dan maksimum 48 juta. Apalagi kalau jutaan, berapa tahun kira-kira hukumannya?” tegasnya.

Dia juga menjelaskan bahwa pada tahun 2014, sebenarnya sudah ada kecurangan, namun tidak terlalu signifikan. Bergeda dengan kali ini kebohongannya sangat luar biasa, yang terjadi sebelum pilpres, pada saat pilpres dan sesudah pilpres.

“Yang paling signifikan 17,5 juta pemilih suara palsu atau abal-abal yang sudah diprotes 3 bulan yang lalu. Ada banyak data yang tidak pantas. Kalau KPU jujur dan profesional, seenggaknya dikurangi kek 3 sampai 5 juta, saya yakin rakyat udah bersyukur. Tapi mereka tutup telinga dan mata dengan itu semua,” imbuhnya.

Rizal juga merasa bahwa alasan yang diterima selama ini terkait kecurangan yang diduga dilakukan oleh penyelenggara pemilu, tidak masuk akal dan diterima akal sehat.

“Dari TPS yang ada, 13,5% itu salah input. Itu besar sekali. Kok bisa salah input? Nah sistem di backend ini yang bisa diatur-atur. Misalnya 01 dapet 16, tambahin (angka) 0 jadi 160. Lalu 02 dapet 140, dikurangi 0 jadi 14,” tambahnya lagi.

428

KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR