Home Gaya Hidup Menikmati Koleksi Seni di Galeri Lorong

Menikmati Koleksi Seni di Galeri Lorong

Bantul, Gatra.com - Galeri Lorong menjadi ruang multifungsi nan asri di sudut desa di Bantul. Selain menggelar pameran seni dan memiliki stockroom karya, galeri ini juga memfasilitasi workshop, ngopi, hingga tetirah dengan fasilitas homestay-nya.

Sepasang pria dan perempuan bertubuh tambun kerokan di atas bangku bambu. Si pria tampak keenakan menikmati kerokan dari si perempuan yang hanya mengenakan kutang itu.

Adegan ini diwujudkan dalam dua karya seni. Satu berupa karya tiga dimensi dari bambu dan resin yang seluruhnya berwarna putih. Satunya lagi berupa lukisan warna kunyit dari cat minyak di atas kanvas 154x134 centimeter.

Lukisan digantung persis di atas patungnya dan menghiasi satu sudut di Galeri Lorong, di Jalan Nitiprayan, Dusun Jeblok, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Selama ini, Nitiprayan dikenal sebagai sentra aktivitas para seniman di Yogyakarta

Sebulan ini, 30 April-30 Mei, karya perupa Budiyana pada 2012 tersebut, bersama karya-karya 19 seniman lain, menjadi bagian pameran “Tribute to OHD: Membongkar Ruang Persediaan”.

Ajang ini sebagai bagian perayaan ulang tahun kolektor seni terkemuka, Oei Hong Djien. Di Magelang, Yogyakarta, dan Bantul, tak kurang dari 15 galeri menghelat agenda pameran, termasuk Galeri Lorong.

Jika di pameran lain sejumlah karya menampilkan sosok OHD, karya-karya di Lorong tak menunjukkan figur sosok dokter dan juragan tembakau yang dianggap salah satu patron dunia seni rupa Indonesia itu.

Apalagi hanya ada dua karya buatan tahun ini. Pertama, “Share” lukisan cat semprot 52x55 centimeter karya Isrol Medialegal dan Yuni Bening yang menampilkan dua bocah duduk bersila dan membuka buku. Di atas mereka, rajutan benang merah membentuk kata SHARE.

Kedua, “Enigma”, karya tiga dimensi dari Harlen Kurniawan berupa lingkaran besi putih berdiameter 1,2 meter dengan ornamen kran di bagian atas dan tempelan kapas di sisi bawah.

Jika hendak ditafsirkan secara bebas, dua karya ini bisa saja dianggap menggambarkan sosok OHD yang mau berbagi dan memberi curahan dukungan bagi dunia seni dan para perupa.

Selebihnya, seperti halnya “Kerokan”, adalah karya-karya beberapa tahun lewat tanpa ikatan tema. Perupa Nasirun menampilkan “Carangan #5”, lukisan sureal atas sosok manusia berkepala mirip kuda di medium cat minyak di kanvas 20x50 centimeter tahun 2016.

Ada pula “Going Nowhere” milik Mella Jaarsma tentang dua figur yag tertutupi dua bentuk hitam putih layaknya kepingan puzzle. Gambar dari pensil dan tinta di atas kertas 28x39 centimeter ini dibuat pada 2014.

Manajer Galeri Lorong Rifia Pratiwi menjelaskan, meski merayakan ultah OHD, sang kolektor membebaskan penyelenggara pameran menentukan konsep dan seniman partisipan.

Pihak Galeri Lorong, terutama kurator Arham Rahman yang sekaligus pendiri galeri ini, mengajukan konsep sesuai subjudul pameran ini: menampilkan koleksi di ruang persediaan.

“Pameran ini sekalian niat kami memperkenalkan bahwa kami punya stock room. Kami pun membongkar koleksi yang kami miliki apa saja dan bisa kami tampilkan,” kata Rifia saat ditemui Gatra.com, Kamis (16/5).

Galeri Lorong memang tak sekadar ruang pameran seni. Galeri ini berada di Dusun Jeblok sejak dua tahun silam dan sebelumnya berada di Banguntapan, sejak berdiri pada 2013. Suasana di sekitar galeri amat teduh dan asri karena banyaknya pepohonan.

Teras dan bangunan depan dijadikan coffee shop dan warung makan lokal serta menyatu dengan sebuah butik. Lantai duanya menjadi galeri yang juga memanfaatkan lorong ruang itu sebagai tempat pajang karya seni.

Bangunan kedua pun difungsikan sebagai galeri, termasuk sudut-sudut di sekitar tangga menuju lantai dua yang difungsikan untuk stockroom. Meski sebagian telah dipajang di pameran ini, terlihat karya-karya lain masih menumpuk di ‘gudang’ tersebut.

DI bagian paling belakang, ada dua rumah panggung. Arsitekturnya menonjolkan penggunaan kayu dan kaca-kaca lebar. Kamar-kamarnya dinamai para wayang Panakawan. “Kami fungsikan sebagai homestay untuk wisatawan. Semua yang ada di sini itu untuk menyokong kegiatan galeri,” kata Rifia.

Galeri Lorong rutin menggelar program seni. Bersamaan dengan pameran untuk OHD ini, juga dipajang karya sejumlah seniman Taiwan dalam pameran Letter.Callus.Post-war. Bulan depan, galeri ini menggelar workshop seni sebagai sarana terapi diri.

971