Home Ekonomi Kementan: Implementasi B100 Terhadap Alsintan Masih Proses Persiapan

Kementan: Implementasi B100 Terhadap Alsintan Masih Proses Persiapan

Jakarta, Gatra.com - Kementerian Pertanian (Kementan) mencanangkan kewajiban penggunaan bahan bakar Biodiesel B-100 atau 100% Biosolar pada alat dan mesin pertanian (Alsintan). Namun, implementasinya masih dalam proses menuju komersialisasi.

Direktur Alsintan Kementan, Andi Nur Alamsyah mengungkapkan, kewajiban tersebut sudah tertuang dalam kontrak dengan produsen alsintan. “Dari sisi aturan, barang yang kita beli menggunakan B100,” ungkapnya di sela-sela Rapat Kerja Kementan dengan Komisi IV DPR-RI, Senin (16/6) kemarin. 

Andi menjamin petani yang menggunakan B100 akan mendapatkan garansi dari penyedia. Hal ini telah menjadi persyaratan kontrak terhadap produsen. Namun, Ia mengakui ketersediaan B100 masih terbatas. Pihaknya menjamin alsintan yang menggunakan B100 dapat berfungsi dengan baik.

“Dari BBP Mektan (Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian), traktor tidak ada masalah,” tuturnya.

Direktur Jenderal Perkebunan, Kasdi Subagyono mengungkapkan B100 sudah digunakan dalam 50 mobil di lingkungan Kementerian Pertanian. Bahan bakarnya disuplai oleh Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar (Balittri) yang memiliki reaktor dengan kapasitas 1600 liter/hari.

Berdasarkan hasil uji coba Badan Penilitian dan Pengembangan Pertanian dengan Mobil Toyota Hilux Turbo 2400 cc double cabin, mobil tersebut dapat menempuh jarak hingga 6.173 km. “B100 lebih efisien daripada solar. Satu liter biodiesel B100 setara dengan 13,1 km, sedangkan satu liter solar hanya 9,6 km,” terangnya ketika dihubungi oleh Gatra.com, Selasa (18/6).

Menurutnya, implementasi B100 masih dalam tahap uji coba kepada mobil dinas lingkungan Kementan. “Traktor, combined harvester, planter, dan Alsintan lainnya mulai kapan (implementasi) harus koordinasi dulu dengan Kementerian ESDM (Energi dan Sumberdaya Mineral) juga. Kalau dalam uji coba sudah seratus persen dapat digunakan,” jelasnya.

Kasdi mengakui B100 masih dalam level penelitian. Ia menambahkan dalam implementasi dan komersialisasi merupakan ranah Kementerian ESDM.

“Itu (implementasi B100) merupakan tantangan ketika kita bisa meningkatkan konsumsi dalam negeri melalui bioindustri. Selama ini, tiap tahun kita mengekspor 30-31 juta ton CPO (minyak kelapa sawit),” ungkapnya.

259