Home Ekonomi Akademisi: Kebijakan Amran Gebrak Ekspor Hortikultura

Akademisi: Kebijakan Amran Gebrak Ekspor Hortikultura

Jakarta, Gatra.com - Guru Besar Ekonomi Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Dr. M. Firdaus, mendukung gebrakan Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, dalam menggenjot komoditas hortikultura untuk mengusai pasar domestik dan ekspor.

Firdaus dalam keterangan tertulis yang diterima pada Minggu (14/7), menyampaikan, pemerintah dalam hal ini Kementan harus tetap fokus menggarap komoditas hortikultura tertentu yang strategis untuk menguasai ekspor sebagaimana kebijakan Amran untuk menggerakkan ekspor dan investasi pertanian.

"Peningkatan daya saing hortikultura Indonesia menjadi agenda penting dan mendesak. Permintaan dunia ke depan masih terus meningkat untuk produk pertanian primer dan hasil olahannya, khususnya hortikultura," kata Firdaus usai pemaparan Penyusunan Rencana Strategis Direktorat Jenderal Hortikultura di Yogyakarta, Jumat kemarin (12/7).

Firdaus mendukung kebijakan Amran di sektor hortikultura karena dalam era kepemimpinannya, produksi maupun ekspor hortikultura pada terus meningkat beberapa tahun terakhir. 

Menurut catatan Badan Pusat Statistik (BPS) sepanjang tahun 2018, produksi buah-buahan mencapai 21,5 juta ton, sayuran 13 juta ton, tanaman hias 870 juta tangkai dan tanaman obat mencapai 676 ribu ton. Kinerja volume ekspor hortikultura tahun 2018 mencapai 435 ribu ton, naik 10,36% dibanding tahun 2017 sebanyak 394 ribu ton.

Firdaus menekankan untuk lebih menguasai pasar global, pengembangan buah dan sayur harus lebih fokus pada peningkatan kualitas dan persaingan harga. Untuk tanaman hias dan obat fokus pada kuantitas dan kontinuitas produksi.

Namun demikian, kata Firdaus, persaingan dagang di tingkat global dan regional kini semakin ketat. Selain penurunan tarif, pemenuhan tuntutan nontarif serta blok dagang regional bisa memengaruhi daya saing ekspor produk pertanian, khusunya hortikultura.

"Jadi penting kita mengetahui karakteristik konsumen dan potensi TBT [Technical Barrier to Trade] negara tujuan," ungkapnya.

Oleh karena itu, Firdaus menyebutkan konsep kawasan buah Satu Desa Satu Varietas (One Village One Variety/OVOV) bagus dikembangkan supaya pengendalian mutu, harga dan kuantitas bisa lebih mudah dilakukan. Pemerintah siapkan benih yang berkualitas, kalau perlu dibagikan secara gratis kepada masyarakat namun tetap dalam skala ekonomi tertentu.

"Sistem logistik hortikultura seperti yang sudah ada untuk beras dan jagung selayaknya juga dibangun," sebutnya.

Di tempat yang sama, Dirjen Hortikultura Kementan, Suwandi, mengatakan, produksi komoditas hortikultura Indonesia dari tahun ke tahun terus meningkat bahkan berlimpah. Tentu ini harus diimbangi dengan penguatan sistem pemasarannya, baik untuk memenuhi kebutuhan domestik maupun untuk memperluas ceruk pasar ekspor.

"Butuh penguatan market intelligence dan diplomasi perdagangan internasional untuk bisa mendobrak pasar dunia. Harus lebih cerdik dan progresif, jangan terlalu konservatif dalam mendorong protokol ekspor," katanya.

Suwandi menegaskan, saat ini produk hortikultura Indonesia bersaing dengan negara-negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, Filipina, dan Vietnam. Beberapa komoditas ekspor Indonesia yang sudah banyak mengisi pasar ekspor antara lain nenas, pisang, guava, mangga, manggis, durian, kobis, bawang merah, kunyit, kapulaga, dan berbagai jenis tanaman hias.

"Kita sudah ekspor lebih dari 113 negara. Tren ekspor juga meningkat. Khusus untuk pasar ekspor buah ke Cina masih perlu dipacu lagi. Indonesia baru bisa memasukkan 5 komoditas buah yaitu pisang, salak, lengkeng, manggis, dan buah naga," ujarnya.

Sesuai dengan arahan Mentan Amran , lanjut Suwandi, Kementan terus melakukan perbaikan sistem distribusi, logistik, dan pemasaran produk hortikultura. Ditjen Hortikultura sudah mengembangkan aplikasi bernama SARTIKA untuk menghubungkan produsen, pelaku, pemasar, hingga lembaga sertifikasi.

"Saat ini juga tengah dibangun pusat grosir hortikultura modern di Sidoarjo yang mengoneksikan antara hasil pertanian dengan konsumen strategis seperti perhotelan, restoran, chef, perusahaan katering, tokoh buah modern, supermarket, grosir, bahkan langsung terhubung dengan pasar ekspor dengan membangun warehouse dan wholesale produk Indonesia di Singapura, Malaysia, China, Hongkong, Jepang, dan lainnya," kata Suwandi.

Direktur Government Relations and External Affair PT Great Giant Pineapple (GGP) Lampung, Welly Soegiono, menekankan pentingnya pemetaan pasar dan kemitraan dalam pengembangan hortikultura nasional.

Produksi hortikultura harus berorientasi pasar supaya petani mendapat kepastian harga dan pemasaran. Perencanaan produksi hortikultura harus berbasis kebutuhan pasar, bukan sebaliknya pasar yang dipaksa membeli apa yang bisa diproduksi.

"Kami di GGP sudah mengembangkan kemitraan berbasis corporate shared value, kami tidak hanya berperan sebagai off-taker, tetapi juga melakukan pendampingan bagi petani mulai dari penanaman, perawatan, panen, pengepakan, distribusi hingga pemasarannya," kata Welly.