Home Ekonomi Mandiri Sektor Perikanan Tangkap

Mandiri Sektor Perikanan Tangkap

GATRAreview.com - Perairan Indonesia ternyata memiliki potensi sumber daya ikan yang besar. Merujuk data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), angka potensi sumber daya ikan di laut terus mengalami tren kenaikan setiap tahunnya. Tingginya angka potensi sumber daya ikan menunjukan bahwa produksi ikan tangkap di laut nusantara cukup besar. Contoh saja pada 2011, potensi sumber daya ikan sebanyak 6,52 juta ton. Dua tahun kemudian atau 2013, bertambah menjadi 7,31 juta ton. Di 2017, naik lagi menjadi 12,54 juta ton. Jika diakumulasikan selama enam tahun (2011 – 2017), potensi sumber daya ikan di laut mengalami lonjakan hingga 6,02 juta ton.

Meningkatnya potensi sumber daya ikan di perairan Indonesia tak lepas dari kebijakan tegas Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti yang tak segan-segan menenggelamkan kapal ikan pelaku illegal fishing. Sejak menjadi orang nomor satu di KKP, 2014 lalu, hingga Maret tahun ini KKP telah menenggelamkan 539 kapal asing yang tertangkap melakukan pencurian ikan di wilayah perairan Indonesia. “Pemberantasan illegal fishing dan menggusur kapal-kapal asing terus dioptimalkan untuk kesejahteraan nelayan,” kata Direktur Jenderal Perikanan Tangkap KKP, M. Zulficar Mochtar kepada Gatrareview di Jakarta.

Data Potensi Sumber Daya Ikan 2017-2017

Tahun

Juta Ton

1997

6,19

1999

6,40

2001

6,41

2011

6,52

2013

7,31

2015

9,93

2017

12,54

Sumber : Kementerian Kelautan dan Perikanan

 

Produksi Perikanan Tangkap Berlimpah

Sebagai negara maritim, Indonesia memiliki wilayah perairan sekitar 75 % dari total wilayah. Sementara penyebaran daerah penangkapan ikan mencapai luas sekitar 5,8 juta km2 yang terbagi menjadi 11 Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPPNRI). Wilayah-wilayah tersebut meliputi Selat Malaka, Samudera Hindia (2 WPPNRI), Laut Cina Selatan, Laut Jawa, Selat Makassar-Laut Flores, Laut Banda, Teluk Tomini-Laut Seram, Laut Sulawesi, Samudera Pasifik, dan Laut Arafura-Laut Timor.

Zulficar menjelaskan bahwa pada kuartal I hingga mendekati kuartal II tahun 2019 ini, produksi perikanan tangkap di sejumlah daerah dikabarkan dalam kondisi berlimpah. Cold storage masih penuh dengan stok ikan.

Komoditas perikanan tangkap didominasi oleh ikan tuna, cakalang, tongkol dan udang. Komoditas ini menjadi primadona untuk kebutuhan konsumen dalam negeri maupun ekspor. Harganya juga cukup tinggi. “Tak heran jika komoditas tersebut berkontribusi terhadap PDB (Produk Domestik Bruto) sektor perikanan,” ujar Zulficar.

Di samping itu, komoditas jenis pelagis kecil, ikan demersal, kepiting, rajungan, cumi-cumi dan ikan karang sangat cukup menjanjikan. Untuk jenis pelagis kecil seperti jenis sardin, ikan teri, kembung dan layang juga cukup mendominasi terhadap ikan yang didaratkan di pelabuhan perikanan.

 

Volume Produksi Rp 210,7 triliun mencapai 2018

Volume produksi perikanan tangkap juga mengalami peningkatan. Di tahun 2015 produksi mencapai 6,67 juta ton sedangkan di tahun 2018 naik menjadi 7,3 juta ton atau meningkat rata-rata hampir 3% per tahun. Yang lebih menarik justru dari sisi nilai produksi. Angka kenaikannya menunjukkan akselerasi yang jauh lebih signifikan. Jika pada tahun 2015 nilai produksi perikanan tangkap mencapai Rp 120,6 triliun, maka pada tahun 2018 sudah mencapai Rp 210,7 triliun. “Meningkat rata-rata 23,20% per tahun,” urai Zulficar.

Menurut Zulficar capaian ini cukup membanggakan. Angka ini juga menjadi salah satu petunjuk bahwa upaya untuk menjaga mutu ikan hasil tangkapan dari mulai bantuan kapal perikanan dan alat penangkapan ikan ramah lingkungan, penerapan CPIB (Cara Penanganan Ikan yang Baik), pembangunan dan operasionalisasi TPI (Tempat Pelelangan Ikan) higienis di pelabuhan perikanan, dan lain-lain, menunjukkan hasil yang baik

Data Volume Produksi Perikanan Tangkap

Tahun

Perikanan Laut

(Ribu Ton)

Perairan Umum Daratan

(Ribu Ton)

2012

5.435

393

2013

5.707

408

2014

6.037

446

2015

6.204

473

2016

6.115

464

2017

6.424

467

2018

6.716

532

Sumber : Kementerian Kelautan dan Perikanan


Reporter : Syah Deva Ammurabi

69