Home Kesehatan Upaya Purbalingga Cegah HIV-AIDS dari Hulu

Upaya Purbalingga Cegah HIV-AIDS dari Hulu

Purbalingga, Gatra.com – Penularan human immunodeficiency virus-acquired immunodeficiency syndrome - acquired immune deficiency syndrome (HIV-AIDS) di Purbalingga, Jawa Tengah, semakin mengkhawatirkan. Hal itu ditunjukkan oleh naiknya angka kasus HIV-AIDS dari tahun ke tahun.

Pengidap atau orang dengan HIV-AIDS (ODHA) tak terbatas pada kelompok masyarakat tertentu. Bahkan, HIV-AIDS sudah menular ke ibu rumah tangga, remaja, baik di perkotaan maupun perdesaan. Karena itu, butuh penanganan sejak dini untuk mengantisipasi sekaligus melatih respons masyarakat dalam penanganan HIV-AIDS.

Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Kabupaten Purbalingga, Heni Ruslanto, mengatakan salah satu upaya pemerintah adalah dengan membentuk Forum Warga Peduli AIDS (WPA) di pedesaan.

Kata dia, pembentukan Forum WPA Desa diharapkan dapat menggerakkan dan memotivasi masyarakat dalam pencegahan dan penanggulangan HIV AIDS. Forum itu juga membantu masyarakat mengidentifikasi masalah HIV-AIDS agar dapat ditangani secara efektif.

"Mendorong dan menyakinkan masyarakat untuk mengetahui risiko penularan HIV AIDS dengan memeriksakan di pos pelayanan kesehatan terdekat," katanya dalam sosialisasi pembentukan Forum WPA di aula Kecamatan Karangmoncol, Rabu (31/7).

WPA diharapkan dapat memberikan bimbingan kepada masyarakat melalui forum pertemuan warga soal bahaya HIV-AIDS. Tak kalah penting adalah pencegahan terjadinya diskriminasi pengidap penyakit HIV-AIDS dan keluarganya.

Dalam sosialisasi dan pembentukan Forum WPA tersebut, sebanyak 150 orang warga kecamatan Karangmoncol mengikuti sosialisasi pembentukan forum warga peduli AIDS (WPA) di Aula Kecamatan Karangmoncol, Rabu (31/7). Mereka terdiri dari kepala desa, Babinsa, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda dan PKK desa se-Kecamatan Karangmoncol.

Sekretaris Kecamatan Karangmoncol, Sapto Suhardiyo, mengatakan HIV-AIDS seperti fenomena gunung es. Perilaku LGBT (lesbian, gay, biseksual dan transgender) menjadi salah satu faktor pendukung penyebaran HIV AIDS.

“Untuk itu diharapkan setelah adanya kegiatan sosialisasi ini peserta bisa melakukan pencegahan sedini mungkin penyebaran HIV AIDS di desanya masing-masing," kata Sapto.

Konselor HIV-AIDS dan petugas VCT di RSUD Goeteng Taroenadibrata, Istimaunah, menyebutkan bahwa HIV mempunyai empat stadium. Stadium 1 dan 2 masih dikatakan orang dengan HIV. Kemudian stadium 3 dan 4 bisa dikatakan AIDS.

“Penyebaran HIV AIDS sangat cepat, hanya berselang 3 bulan setelah tertular dari pengidap HIV-AIDS, bisa langsung dideteksi. Penyebaran HIV AIDS melalui cairan kelamin, darah dan air susu ibu," katanya.

Data KPA Purbalingga, pada tahun 2016, kasus HIV berjumlah 66 dan meningkat menjadi 93 kasus pada 2017. Antara 2010 hingga 2018, total Kasus HIV-AIDS di Purbalingga sebanyak 356 kasus.

660