Home Politik Dana Kemensos Menipis, Tali Asih WPS SK Tak Semua Dibayarkan

Dana Kemensos Menipis, Tali Asih WPS SK Tak Semua Dibayarkan

Semarang, Gatra.com - Sebanyak 519 wanita pekerja seks (WPS) yang ada di Komplek Resos Argorejo (Sunan Kuning) dan Gambilangu telah didata oleh Kementerian Sosial dan Pemkot Semarang. Data itu akan digunakan sebagai penerima tali asih atas ditutupnya aktifitas prostitusi di dua Lokalisasi tersebut pada pertengahan Agustus ini.

Namun begitu, Kementerian Sosial menyatakan tidak semua WPS akan menerima dana tali asih tersebut. Pasalnya dana Kemensos masih terbatas, kuota penerima manfaat untuk wanita pekerja seks komersial tersisa 205 orang secara keseluruhan.

"Anggaran Kemensos sudah banyak terpakai di tahun lalu untuk program penutupan lokalisasi. Jadi tahun ini anggaran sudah terbatas. Kuota tersisa 205 penerima manfaat tali asih," kata Tri Sukreni, Kasubdit RSTS dan ODHA Kemensos, di Balai Kota Semarang, Selasa (6/8).

Dia juga menyatakan, para WPS Sunan Kuning dan Gambilangu belum tentu semuanya bisa terkover dana tali asih tersebut. Dikarenakan masih ada lokalisasi lain yang masih belum tergarap seperti di Kendal dan Palangkaraya.

"Ketiga daerah tersebut sudah mengajukan proposalnya, kita tunggu keputusan dari pimpinan akan dibagikan kemana saja kuotanya," ucapnya.

Dia memerinci, tiap WPS akan mendapatkan besaran total tali asih Rp 6 juta per orang, dimana penerima manfaat setiap orang Rp 5 juta. Jumlah tersebut ditambah uang jaminan hidup sebesar Rp 1 juta.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu mengaku akan tetap mengakomodir kebutuhan dana tali asih bagi para WPS tersebut.

"Rencananya akan diakomodir 100 WPS Sunan Kuning dan Gambilangu, yang mendapat tali asih. Pemberiannya akan dilaksanakan usai 15 Agustus 2019 mendatang secara non-tunai," katanya.

Pemberian tali asih akan dilakukan secara seremonial dengan mengumpulkan para WPS. Termasuk pernyataan para WPS untuk tidak akan kembali melakukan praktek prostitusi ditempat tersebut.

"Jadi akan ada pernyataan secara seremonial, karena nantinya akan buat daerah itu jadi kampung tematik religi," katanya.

Ita, sapaan wakil walikota juga menyatakan jika usulan pemilik wisma karaoke untuk dilegalkan masih belum bisa diterima. Dia khawatir pelegalan karaoke akan memicu munculnya prostitusi Sunan Kuning jilid 2.

"Prosesnya pelan-pelan, akan tetap ada pelatihan dan ketrampilan kepada masyarakat sekitar untuk menuju Kampung Tematik Kuliner Religi," ucapnya.

178