Home Gaya Hidup Ratusan Orang Ikut Flashmob Tari Cokek di Kota Tua

Ratusan Orang Ikut Flashmob Tari Cokek di Kota Tua

Jakarta, Gatra.com – Sedikitnya ada 400 orang mengikuti flashmob Tari Cokek di kawasan Kota Tua, Jakarta Barat, Minggu pagi (18/8).

Penggagas flashmob dari Komunitas Indonesia ID, Eva Simanjuntak mengatakan, 400 orang itu terbagi menjadi empat kelompok, di antaranya Indonesia, Raya, Garuda dan Pancasila. Masing-masing kelompok diisi sekitar 100 orang yang berasal dari beragam komunitas.

Eva mengatakan alasan diadakannya flashmob tersebut untuk munculnya kegelisahan atas isu yang beredar soal keseragaman atas nama golongan tertentu. Padahal Indonesia punya budaya yang sangat baik dan harus ditampilkan. 
Eva menyebut, pihaknya memilih tarian yang berasal dari Betawi itu adalah untuk melestarikan dan meluruskan makna tarian tersebut.

"Ini sekaligus melestarikan kebudayaan Tari Cokek yang juga mengalami distorsi, yang katanya tarian seronoklah, erotislah, ternyata bukan. Jadi kita kembalikan lagi tarian tersebut persis di Kota Tua," kata Eva kepada Gatra.com, di Jakarta, Minggu (18/8).

Kota Tua dipilih Eva dan rekan-rekan lantaran Tari Cokek merupakan akulturasi dari tiga budaya, yakni China, Betawi dan Sunda.

"Jadi, pas banget kita bikin di Kota Tua, karena tiga budaya itu ada di sini," jelas perempuan berusia 44 tahun itu.

Eva melanjutkan, setelah acara di Kota Tua itu, Komunitas Indonesia ID bakal menantang kota lain untuk melakukan flashmob tarian tradisional daerah masing-masing.

Daerah yang sudah siap merayakannya adalah Bandung, lanjut Eva, akan digelar pada 1 September 2019 mendatang. Peserta yang mengikuti flashmob di kota itu akan lebih banyak dari Jakarta.

"Mereka akan menari Ketuk Tilu. Mungkin mereka akan lebih banyak dan masif, karena persiapan mereka jauh lebih siap dan panjang. Beda dengan kami yang baru digagas akhir Juli (2019)," papar Eva.

Ibu dari atlet basket termuda nasional, Derrick Xzavierro itu menjelaskan, flashmob budaya bakal dirayakan setiap dua minggu sekali di beberapa kota besar, seperti kota Bandung, Surabaya, Makassar, hingga Medan. Puncak flashmob bakal diadakan pada 28 Oktober 2019 mendatang di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat.
Eva menyebut, pihaknya sepakat untuk tidak membawa identitas atau bendera tertentu. Misi mereka, membawa pesan damai untuk Indonesia.

"Segala sesuatu yang akan merusak bangsa dan negara, dalam bentuk apapun itu, kami harus jadi garda terdepan (yang melawannya)," katanya.

COMMENTS

LEAVE A COMMENTS