Home Politik Amien Rais: Tentara Bikin Warga Papua Makin Galau

Amien Rais: Tentara Bikin Warga Papua Makin Galau

Gunungkidul, Gatra.com- Konflik di Papua yang terjadi saat ini karena adanya ketidakadilan. Untuk menyelesaikannya, perlu pendekatan kemanusiaan dan hati, bukan dengan pendekatan militeristik yang justru akan menambah galau warga Papua.
 
Hal itu disampaikan Ketua Dewan Kehormatan Partai Amanat Nasional (PAN), Amien Rais. Mantan Ketua MPR itu mengatakan, konflik yang tampak saat ini mencerminkan masalah yang sudah puluhan tahun tak muncul. 
 
"Teman-teman Papua itu merasa ada ketidakadilan. Jadi misalnya lingkungan atau ekologi itu hancur-hancuran, sementara orang Papua hanya menerima ampasnya," kata Amien saat ditemui di Bangsal Sewoko Projo, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, Sabtu (31/8) malam.
 
Mantan Ketua PP Muhammadiyah  itu usai menghadiri pengajian akbar dalam pelantikan Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Kabupaten Gunungkidul periode 2018-2022.
 
Menurut Amien, Papua juga menghadapi masalah pertambangan. Papua kaya raya sumber daya alam, tapi kekayaannya dibawa ke luar negeri. Orang Papua, kata Amien, hanya menjadi penonton saja. "Kalau pun toh ada yang menetes ke teman-teman Papua itu tidak sampai satu permil," kata dia.
 
Amien menyebut jika dirinya orang Papua, ia pun akan merasa seperti diempaskan karena Papua udah lama tidak diperhatikan dan tersentuh perkembangan peradaban modern. 
 
"Sudah lama sekali tidak diperhatikan, sudah cukup jauh dari peradaban. Masih sangat banyak orang-orang Papua di gunung dan hutan tidak tersentuh peradaban modern. Kita punya manusia, personel, dan dana yang lebih dari cukup, tapi mengapa tidak sampai ke sana," ungkapnya. 
 
Amien mengatakan, seluruh elemen, yakni Presiden Joko Widodo, tokoh masyarakat, ulama, kaum intelektual, dan lainnya harus duduk bersama termasuk dengan para perusuh.
 
"Baru setelah itu ada harapan. Kalau cuma mengirim tentara lagi malah mereka semakin galau. Bukan persuasif, pendekatan kemanusiaan dan hati," kata dia.
 
Menurutnya, tak perlu saling menyalahkan saat kondisi seperti ini. "Ini sudah waktunya kita pikir bersama. Tidak ada lagi yang mengatakan ada penumpang gelap atau penumpang setengah gelap. Itu malah jadi kacau balau," ucapnya.
5106