Home Teknologi Huawei Tuduh AS Lakukan Serangan Siber dan Ancam Staf Mereka

Huawei Tuduh AS Lakukan Serangan Siber dan Ancam Staf Mereka

Guangdong, Gatra.com - Raksasa teknologi Cina, Huawei menuduh pemerintah Amerika Serikat telah "menggunakan setiap alat dan cara yang ada" untuk mengganggu bisnisnya. Huawei mengatakan pihak Amerika telah meluncurkan serangan siber untuk menyusup ke jaringannya dan mengancam karyawannya.

Meskipun begitu, Huawei  belum bisa menghadirkan bukti atas tuduhan tersebut. Perusahaan tersebut sebelumnya dimasukkan ke dalam daftar hitam perdagangan AS di tahun ini. Nampaknya, Huawei menjadi pusat sorotan dari sengketa perdagangan antara Amerika Serikat dan Cina.

Huawei menuduh Amerika Serikat telah secara tidak sah melakukan gangguan terhadap staf mereka. Tak hanya itu, AS dituding meluncurkan serangan lewat dunia maya untuk menyusup ke dalam sistem informasi internalnya. Korporasi mengatakan bahwa agen FBI telah dikirim ke rumah masing-masing karyawannya untuk melakukan penekanan pada diri mereka dalam rangka memaksa pengumpulan informasi tentang perusahaan.

Baca Juga: Trump Berencana Akhiri Kerja Sama AS dengan Huawei

"Kami sangat mengutuk tindakan yang sangat merugikan ini. Ada upaya bersama dari pemerintah AS untuk mendiskreditkan Huawei dan mengekang posisi kepemimpinan Huawei di industri," kata perusahaan tersebut seperti dilansir BBC, Rabu (4/9).

Sampai saat ini, belum ada tanggapan dari para pejabat Gedung putih. Pernyataan Huawei tersebut dibuat sebagai tanggapan terhadap laporan Wall Street Journal yang mengatakan telah diselidiki oleh Departemen Kehakiman AS atas dugaan pencurian paten kamera ponsel pintar. Huawei mengatakan dalam pernyataannya bahwa tuduhan itu tidak benar.

Huawei sepertinya menjadi salah satu simbol yang melambangkan perebutan kekuasaan yang berkembang antara AS dan Cina. Dua negara ekonomi terbesar di dunia tersebut telah melakukannya dalam perang dagang selama setahun terakhir. AS berpendapat bahwa Huawei memiliki risiko keamanan nasional dan menempatkan perusahaan itu dalam daftar hitam perdagangan pada Mei lalu.

 

159