Home Teknologi NASA Kaget, Asteroid Bisa Membunuh Jakarta tak Terpantau

NASA Kaget, Asteroid Bisa Membunuh Jakarta tak Terpantau

Jakarta, Gatra,com -- Asteroid 'pembunuh kota' yang melintas dekat Bumi pada Juli 2019, tidak terpantau NASA, sampai mereka diberitahu tentang hal itu hanya beberapa jam sebelum ia melintas. Email internal mengungkapkan badan antariksa AS itu kaget oleh kehadiran asteroid bernama '2019 OK'. Demikian dailymail.com, 20 September 2019.

Dia melintas di antara Bumi dan Bulan yang berjarak 238.900 mil. Dan asteroid itu lebih dekat dengan Bumi, sekitar 40.400 mil jauhnya dari Bumi. Ini merupakan asteroid terbesar dan terdekat yang melintas dalam hampir 100 tahun.

Email yang diperoleh Buzzfeed News melalui Freedom of Information mengungkapkan seorang staf NASA mengatakan kepada rekan-rekannya bahwa asteroid telah 'lolos dari jaring'.

Melintas dengan kecepatan 55.000 mph atau 88.000 km/jam, berukuran 130 meter x 57 meter, NASA baru menyadari 2019 OK akan datang 24 jam sebelum melintas.

Jutaan orang tewas jika asteroid 2019 itu menghantam kota seperti Jakarta. "Ini asteroid pembunuh kota," kata astronom Swinburne University, Alan Duffy kepada Sydney Morning Herald. "Itu akan mencapai lebih dari 30 kali energi ledakan atom di Hiroshima."

Ledakan atom Little Boy di Hiroshima menewaskan sekitar 70.000 orang. Jika asteroid itu menimpa, lebih dari 210.000 kematian di kota seperti Jakarta, dan lebih dari 250.000 orang terluka.

European Space Agency mengatakan bahwa asteroid selebar 328 kaki (100 meter) seperti 2019 OK dapat melepaskan kekuatan hampir sebanyak 50 megaton seperti yang dihasilkan Tsar Bomba - senjata nuklir paling kuat yang pernah dibuat. Tsar Bomba akan membunuh sekitar 4,7 juta orang jika dijatuhkan di kota seperti Jakarta, dan melukai 3 juta lebih.

Baca juga: Asteroid 2019 OK, Si Pembunuh Kota, Mengapa Susah Diamati?

Sebuah observatorium di Brasil adalah yang pertama menemukan 2019 OK dan mengingatkan tim di Amerika. Setelah asteroid itu lewat, sebuah rilis berita memperingatkan bahwa itu bisa menghancurkan area seluas 50 mil, sesuatu yang hanya terjadi sekitar sekali setiap 3.000 tahun.

Paul Chodas dari NASA menulis dalam email dua hari setelah 2019 OK telah berlalu: "Objek ini menyelinap melalui serangkaian jaring penangkapan kami. Aku ingin tahu berapa kali situasi ini terjadi tanpa asteroid terpantau sama sekali."

Email yang dilihat Buzzfeed menunjukkan bagaimana NASA berebut untuk mengetahui mengapa ia tidak melihat asteroid sebelum itu begitu dekat.

Para ahli menyadari email NASA menambah kesan bahwa pengawasan ruang ruang angkasa tidak sempurna. "Kurangnya peringatan menunjukkan seberapa cepat asteroid yang berpotensi berbahaya dapat menyelinap," tulis astronom Monash University Michael Brown dalam sebuah esai untuk The Conversation pada Juli.

216912