Home Kebencanaan Lima Kali Gempa Susulan, Warga Ambon Panik Berlarian

Lima Kali Gempa Susulan, Warga Ambon Panik Berlarian

1749

Ambon, Gatra.com - Lima kali gempabumi susulan dengan jeda waktu tiga sampai lima menit, berturut-turut dengan kekuatan magnitudo 5.2 scala richter (SR), 4.6 SR, 3.6 (SR), 3.2 SR, dan 3.1 SR, dari pukul 11.39 WIT hingga 14.00, Kamis (10/10/2019), membuat panik warga di Kota Ambon, Provinsi Maluku.

Meski tidak berpotensi tsunami, namun karena beberapa hari sebelumnya santer beredar hoax akan ada gempa lebih besar dari gempabumi pertama Kamis lalu (26/9/2019), yang berkekuatan 6.8 SR, serta disebut-sebutkan bakal disusul tsunami, membuat warga lari berhamburan keluar rumah.

Hasil analisis BMKG yang diterima Gatra.com menunjukkan bahwa gempabumi ini memiliki parameter update dengan magnitudo M=5,2. Episenter gempabumi terletak pada koordinat 3,57 LS dan 128,26 BT, atau tepatnya berlokasi di darat pada jarak 16 km arah Timur Laut Kota Ambon, pada kedalaman 10 km, atau berada di Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, Pulau Ambon.

Pantauan Gatra.com di sekitar Kampus Universitas Pattimura Ambon, para mahasiswi berlarian, bahkan ada yang sampai menangis.

Jembatan Merah Putih yang membentang di atas Teluk Ambon, terlihat bergoyang kencang. Warga yang beraktivitas di bawah jembatan yang merupakan salah satu ikon Kota Ambon ini, langsung berlari menjauh.

Di beberapa kawasan, yakni Lateri, Latta dan Passo, warga berhamburan di jalanan. Beberapa pengendara sepeda motor nyaris bertubrukan lantaran panik.

Sejumlah bangunan di kawasan Passo seperti Kantor Ambon Music Office (AMO) atau Ruko Passo nampak beberapa bagiannya roboh. Salah satu siswa SMP yang adalah anak pemilik salah satu Ruko mengalami luka berat tertimpa reruntuhan dan langsung dibawa lari ke Rumah Sakit Oto Kuyk (RS Hative Kecil).

"Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenter, gempabumi yang terjadi merupakan jenis gempabumi dangkal akibat aktivitas sesar lokal," ujar Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono, dalam keterangan persnya yang diterima Gatra.com, Kamis (10/10/2019).

Dia katakan, hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempabumi di wilayah Ambon ini, dibangkitkan oleh deformasi batuan dengan mekanisme pergerakan sesar mendatar (strike slip fault).

"Guncangan gempabumi ini dirasakan di daerah Ambon V MMI. Hingga saat ini belum ada laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat gempabumi tersebut," terangnya.

Meski gempa dirasakan warga hanya lima kali, namun menurut Rahmat, hingga pukul 14.05 WIT, hasil monitoring BMKG menunjukkan adanya 8 aktivitas gempabumi susulan (aftershock) dengan magnitudo terbesar M=4,6.

Rahmat mengimbau agar masyarakat tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Warga juga diminta menghindar dari bangunan yang retak atau rusak diakibatkan oleh gempa.

"Periksa dan pastikan bangunan tempat tinggal anda cukup tahan gempa, ataupun tidak ada kerusakan akibat getaran gempa yg membahayakan kestabilan bangunan sebelum anda kembali ke dalam rumah," sarannya.

Rahmat meminta masyarakat memastikan informasi resmi hanya bersumber dari BMKG yang disebarkan melalui kanal komunikasi resmi yang telah terverifikasi (Instagram/Twitter @infoBMKG), website (http://www.bmkg.go.id atau inatews.bmkg.go.id), atau melalui Mobile Apps (IOS dan Android): wrs-bmkg (user: pemda, pwd: pemda-bmkg) atau infobmkg.

"Kepada masyarakat dihimbau agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya," tandasnya.

 

COMMENTS

LEAVE A COMMENTS