Home Kebencanaan Biota Laut Mati di Tanimbar, Ini Kata Ahli Tsunami BNPB

Biota Laut Mati di Tanimbar, Ini Kata Ahli Tsunami BNPB

255

Ambon, Gatra.com- Ratusan ikan maupun biota laut ditemukan mati terdampar di pesisir pantai Desa Lelingulan, Kecamatan Tanimbar Utara, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku. Fenomena itu hingga saat ini membuat masyarakat Maluku umumnya resah.

Keresahan warga terpicu karena adanya isu tidak benar atau hoax yang mengaitkan dengan tanda-tanda gempa besar berujung tsunami. Menanggapi fenomena kematian biota laut itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) angkat bicara.

Ahli tsunami BNPB, Abdul Muhari, melalui siaran pers dari Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB Agus Wibowo, yang diterima Gatra.com, Senin malam (14/10/2019), menyampaikan beberapa pandangan terkait peristiwa kematian biota laut yang ditemukan pada Sabtu (12/10/2019) lalu.

Pertama, kata Abdul Muhari, bahwa hingga saat ini belum ada penelitian yang menyimpulkan keterkaitan antara biota laut permukaan dengan aktivitas kegempaan dari laut.

Menurutnya, aktivitas kegempaan yang terjadi, biasanya bersumber pada lempeng dengan kedalaman lebih dari 1.000 meter.

"Biota-biota yang selama ini seringkali mati dalam jumlah besar kemudian terdampar di pantai adalah biota permukaan, atau biota laut dangkal-karang, bukan biota laut dalam," ungkap Muhari dalam siaran persnya.

Fenomena terdamparnya biota laut dangkal, kata dia, sering kali disebabkan oleh fenomena upwelling yakni arus naik ke permukaan. Biasanya, fenomena itu membawa planton atau zat hara yang menjadi makanan biota laut dangkal.

Peristiwa yang terjadi di Desa Lelingulan, lanjut dia, bukan merupakan efek aktivitas lempeng/sesar. Fenomena yang terjadi tersebut juga tidak merujuk pada adanya tanda-tanda akan muncul gempa besar.

Sementara itu, BMKG mencatat 1.516 gempa susulan pascagempa Maluku berkekuatan 6.8 SR kemudian dimutakhirkan menjadi 6,5 SR, Kamis (26/9/2019) lalu. Dari jumlah tersebut, 175 diantaranya dirasakan warga.

Terkait dengan gempa tersebut, perkembangan terkini per 14 Oktober 2019, BNPB mencatat 148.619 warga masih mengungsi. Total rumah rusak di wilayah terdampak, yaitu Kabupaten Maluku Tengah, Seram Bagian Barat dan Kota Ambon mencapai 6.355 unit. Rinciannya total rusak berat 1.273 unit, rusak sedang 1.837 dan rusak ringan 3.245. Korban meninggal tercatat 41 jiwa dan mereka yang masih terluka sebanyak 1.602.

Kabupaten Maluku Tengah, Seram Bagian Barat dan Kota Ambon, hingga saat ini masih melakukan upaya penanganan darurat. Sedangkan Provinsi Maluku sudah melakukan upaya-upaya transisi darurat ke pemulihan.

COMMENTS

LEAVE A COMMENTS