Home Gaya Hidup Kemendikbud: Kritik dalam Film Itu Apresiasi dan Solusi

Kemendikbud: Kritik dalam Film Itu Apresiasi dan Solusi

Jakarta, Gatra.com - Pusat Pengembangan Film Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Pusbangfim Kemendikbud) menggelar acara anugerah Kritikus Terbaik tahun 2019. Kegiatan ini dilakukan sebagai pelaksanaan Undang-Undang Perfilman Nomor 33 Tahun 2009, dimana kritik film termasuk bagian dari apresiasi film. 
 
Kepala Pusbangfilm Kemendikbud, Maman Wijaya mengungkapkan bahwa kegiatan ini juga menjadi sarana untuk menumbuhkan budaya kritik, khususnya salam bidang perfilman. Menurutnya, hal tersebut penting dibangun karena sebuah kritik juga adalah bagian dari sebuah solusi.
 
"Mari kita mulai budayakan. Kritik itu karena bagian dari solusi, bagaimana memandang sesuatu dari perspektif lain, termasuk kali ini. Kita ingin mendapatkan perspektif dari pihak lain dalam sebuah film, baik dari sisi konten atau teknis film, sehingga bisa menjadi referensi. Baik itu dari kritikus Pemerintah, dan pihak film lainnya, semua untuk belajar," ujar Maman di Jakarta, Rabu (5/12).
 
Maman juga mengatakan bahwa kritik film yang disampaikan memang banyak diapresiasi pula oleh insan perfilman karena naskah kritik yang masuk pada dasarnya ditulis dalam koridor yang benar. 
 
"Semua yang saya baca naskah itu memang dilakukan dengan cara-cata ilmiah, memakai kajian, dan kaya akan referensi. Lalu kemudian memberikan persepsi menurut penulis sendiri. Selama dilakukan secara ilmiah dan kajian mendalam, maka kesimpulan juga pastinya akan bermanfaat," tambah Maman.
 
Sementara itu, dijelaskan oleh Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Wartawan Film yang juga salah satu Ketua Persatuan Perusahaan Film Indonesia (PPFI), Wina Armada Sukardi, tahun ini terdapat 47 naskah kritik film untuk menjadi nomine.
 
Menurut Wina, kritik film sangat penting karena kritik film memegang atau menempati posisi krusial dalam industri perfilman. Dengan tumbuhnya budaya kritik film yang positif, industti perfilman tidak akan hanya muncuk secara kuantitas saja, Tetapi juga dapat membangun perfilman yang berkualitas.
 
"Kritik film sudah menjadi bagian tersendiri dari perfilman, karena itu kami ingin lebih mandiri. Kami ingin perhelatan kritik film menjadi fokus, dan bukan menjadi sampingan belaka," pungkas Wina.
513

KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR