Home Kesehatan Panduan Gizi Seimbang Pangan Lokal Berpengaruh Kurangi Kolestrol

Panduan Gizi Seimbang Pangan Lokal Berpengaruh Kurangi Kolestrol

Jakarta, Gatra.com - Pola makan yang tinggi lemak seringkali berpotensi pada gangguan kolestrol (dislipidemia). Kurangnya pengetahuan mengenai asupan gizi yang baik, menjadi faktor utama kebiasaan makan ini.

Dosen Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Padang, Gusnedi melakukan studi doktoralnya mengenai peran Panduan Gizi Seimbang berbasis Pangan Lokal (PGS-PL), sebagai upaya menekan risiko gangguan kolestrol.

Dalam disertasinya, Gusnedi mengambil subjek penelitian yakni wanita di Minangkabau. Sebab, prevalensi dislipidemia wanita Minangkabau cenderung tinggi karena banyak mengonsumsi makanan dengan olahan minyak kelapa sawit.

Berdasarkan data Survei Diet Total Indonesia (2014), tercatat penduduk Minangkabau mengonsumsi rata-rata 50,4 g lemak setiap hari dalam bentuk minyak dan santan. Namun sangat kurang dari 100 g mengonsumsi sayuran dan buah-buahan per harinya.

"Panduan PGS-PL ini tidak mengubah jenis makanan tetapi hanya mengurangi jumlah asupan makanannya. Jadi ada makanan yang porsinya harus dikurangi lalu mengoptimalkan makanan yang lain," kata Gusnedi usai promosi doktoral di IMERI FKUI, Jakarta Pusat, Kamis (9/1).

Hasil dari penelitiannya menunjukkan, sebanyak 60% responden dapat mengikuti anjuran untuk mengonsumsi beberapa rekomendasi makanan seperti sumber protein hewani, protein kedelai, sayuran hijau dan buah-buahan. 

Kepatuhan ini bisa menjadi awal dari penurunan kadar kolestrol.

Tindak lanjut ke depan, studi ini akan diimplementasikan agar dapat mengajarkan masyarakat merubah perilaku. Salah satunya dengan membuat buku resep masakan Minang tanpa minyak. 

Selain itu juga akan dikembangkan dengan mencantumkan nilai zat gizinya dan dibagikan melalui program gizi di puskesmas.

"Jadi ibu-ibu itu tahu secara konkret harus mengonsumsi makanan apa, dikasih alternatif yang jelas. PGS-PL ini juga bisa menolong stunting dan obesitas. Harapannya ke depan tidak hanya dikembangkan di Minangkabau tapi juga di daerah-daerah lain sesuai pangan lokal masing-masing, yang intinya mengajarkan orang untuk makan lebih sehat," katanya.

338

KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR