Home Kesehatan Angka Stunting Tinggi, Presiden Akan Kunjungi NTT

Angka Stunting Tinggi, Presiden Akan Kunjungi NTT

Kupang, Gatra.com - Presiden Republik Indonesia Joko Widodo (Jokowi) dijadwalkan akan mengunjungi Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk memaantau penanganan stunting.

"Walau belum ada kepastian waktu, tetapi sesuai infomasi dari pusat Presiden akan kembali berkunjung ke NTT untuk memantau pelaksanaan program penanganan stunting di NTT," kata Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTT, drg Domi Mere usai kegiatan pelantikan pengurus Asosiasi Rumah Sakit Swasta Indonesia (ARSSI) Cabang NTT di Hotel Sahid T-More Kupang, Sabtu (11/1).

Dia menjelaskan secara terkoordinasi, surat dari Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan sudah dikirim ke pihaknya. Dalam surat itu disebutkan Presiden akan mengunjungi NTT untuk memantau pelaksanaan penanganan stunting.

"Sesuai arahan Pak Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat, lokasi kunjungan Presiden ini akan dilaksanakan di Desa Tetaf Kecamatan Kuatnana Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Desa Tetaf dipilih karena desa itu merupakan desa dengan kasus stunting tertinggi di Provinsi NTT," jelas drg Domi Mere.

Mantan Direktur Umum RSU W.Z. Johannes Kupang itu lebih lanjut menguraikan stunting masih menjadi persoalan serius di NTT. Sebab secara nasional, prevalensi stunting di NTT paling tinggi dibandingkan Provinsi-Provinsi lain. Untuk NTT kasus stunting paling banyak yakni Kabupaten TTS dan paling rendah di Kota Kupang.

"Meski secara nasional NTT paling tinggi, tapi upaya percepatan penurunan angka stunting sudah kita lakukan bersama-sama. Dari hasil elektronik pencatatan dan pelaporan gizi buruk berbasis masyarakat, di seluruh NTT data yang masuk sudah 90 persen. Jika sebelumnya prevalensi stunting di angka 42 persen, sekarang kita sudah berhasilkan turunkan kurang lebih 4,6 persen," ujar drg Domi Mere.

Dia menambahkan, salah satu kabupaten di NTT yang paling drastis dalam hal penurunan angka stunting yakni Kabupaten Ngada. Selain karena komitmen pemerintah setempat, aspek ketahanan pangan di Ngada juga cukup bagus. Begitu juga dengan aspek sanitasinya.

"Penyebab stunting tidak hanya dari aspek kesehatan karena aspek ini hanya menyumbang 30 persen. Tapi aspek di luar kesehatan yang kita sebut dengan aspek sensitif itu menyumbang 70 persen. Misalnya sanitasi, perumahan dan kebersihan lingkungan," jelas drg Domi Mere.

Dengan pola kerja seperti sekarang ini, pihaknya optimis angka stunting di NTT akan terus menurun. hal ini dikarenakan pemerintah secara hirarki dari Provinsi hingga kabupaten/kota sudah intervensi dengan pembuatan rumah layak huni melalui dana desa.

1488