Home Ekonomi Pengamat: Perang Dagang Sawit RI-Eropa Masih Kucing-kucingan

Pengamat: Perang Dagang Sawit RI-Eropa Masih Kucing-kucingan

360

Jakarta, Gatra.com – Penjabat Direktur Sekolah Kajian Strategis dan Global (SKSG) Universitas Indonesia, Athor Subroto mengatakan persoalan perang dagang sawit antara Indonesia dan Uni Eropa, saat ini masih terkesan "kucing-kucingan". Sejatinya Eropa sendiri masih sangat membutuhkan sawit dari Indonesia.

“Karena mereka masih demand produk sawit. Eropa itu paling banyak salah satu pengunaan sawitnya, dan mereka butuh untuk pertumbuhan salah satu industri paling tersohor dari wilayah mereka, yaitu fashion. Itu mereka sangat tergantung pada sawit. Coba misal kita bilang, yaudah kita ngga mau ekspor sawit lagi, kita moratorium setahun. Itu industri fashion eropa kelimpungan. Itu tetap kucing-kucingan sajalah menurut saya," kata Athor kepada Gatra, di Jakarta Jumat lalu (14/1).

Menurut Athor, konsep perang dagang hanyalah sebuah bentuk pemberian peringatan dari tiap negara demi meraup keuntungan yang didapat negara tersebut dalam deal perdagangan luar negeri. Sehingga sejatinya, moratorium hanyalah sebuah bentuk "Warning" dan tidak akan berlangsung lama. Apalagi sesungguhnya, dalam dunia perdanganan ada hubungan mutualisme yang semua pihak tidak bisa untung sendirian.

"Saya kira yang perlu disadari dalam dunia perdagangan ini kita, tidak bisa makmur sendiri, tidak bisa tumbuh sendiri, dan tidak bisa menderita sendiri. Karena kalau you membuat kita menderita, maka you juga akan menderita sendiri. Jadi, begitulah konsepnya bahwa seluruh dunia harus kerjasama dan tidak jual beli perang,” kata Athor.

Athor juga menilai langkah Indonesia dalam menerapkan kebijakan untuk memilih menciptakan market di dalam negeri dengan program mandatori pemakaian B10, B20 sampai B30 pada tahun 2022 untuk BBM biodiesel, juga menjadi sebuah “warning” bagi Eropa.

“Sebenarnya langkah Indonesia membuat B10 sampai B30 itu kan membuat mereka khawatir juga. Mungkin ada sebuah message yang tidak tersirat dari Eropa ke kita yang minta ‘okelah B-nya jangan dinaikin terus’. Mungkin misal 5 tahun lagi Indonesia sampai B40, mungkin nanti ada langkah pelarangan ekspor dari Eropa. Tapikan, itu hanya game theory nya begitu, agar pesan-pesan yang coba disampaikan Eropa, untuk jangan terlalu agresif dalam menaikan B-nya ini. Kalau tidak, pasti pusing juga mereka. Jadi, menurut saya sih itu permainannya mereka saja,”  kata Athor.

COMMENTS

LEAVE A COMMENTS