Home Kebencanaan BPBD Magelang Siapkan 3 Rencana Kontijensi Bencana

BPBD Magelang Siapkan 3 Rencana Kontijensi Bencana

Magelang, Gatra.com - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang telah memiliki dokumen rencana kontijensi (antisipasi) penanganan bencana.

Kepala Pelaksana BPBD Magelang, Edy Susanto mengatakan rencana kontinjensi (renkon) disusun sebagai bentuk kesiapan pemerintah bersama seluruh pemangku kepentingan dalam menghadapi bencana.

Rencana kontijensi disusun berdasarkan jenis ancaman. Untuk itu disusun tiga dokumen rencana kontijensi, yakni renkon Merapi, tanah longsor, serta banjir lahar.

Renkon ini memuat skenario penanganan serta peta kekuatan, baik kekuatan sumber daya manusia maupun alat.

Sementara dalam rangka penanggulangan bencana Merapi, Pemkab Magelang memiliki sistem manajemen pengungsian yang diberi nama “Desa Bersaudara”. Manajemen pengungsian Desa Bersaudara memberi kepastian tempat pengungsian yang dituju, serta proses evakuasinya.

Lebih jauh, Desa Bersaudara memberi kepastian kepada para warga terdampak bahwa pelayanan publik tetap berjalan selama masa pengungsian. Antisipasi juga termasuk kecepatan evakuasi, kepastian dan kesiapan lokasi pengungsian.

“Evakuasi misalnya, kita sudah mengetahui pengungsi akan diangkut ke mana, naik apa, serta di mana posisi armadanya. Jadi begitu kejadian, semua pihak sudah otomatis bergerak sesuai tugas masing-masing,” kata Edy, Senin (10/2).

Menurut Edy, rencana kontijensi disusun bersama seluruh organisasi pelaksana dinas terkait. Ada 10 sektor kebencanaan yang melibatkan dinas terkait yang telah mengetahui tugas pokok masing-masing saat terjadi bencana.

“Ada sektor ekonomi, kesehatan, pengungsian, barak. Dinas pendidikan memastikan seluruh anak korban bencana tetap mendapatkan pelayanan pendidikan. Pemerintah menjamin layanan publik tetap jalan meski situasi bencana,” ujar Edy.

Meski pemerintah menjamin akan menjadi yang terdepan dalam penanganan bencana, masyarakat juga perlu membangun semangat mengatasi masalah secara mandiri.

BNPB banyak menginisiasi program maupun melatih relawan tanggap bencana. Diharapkan mereka menjadi pendukung penanganan bencana yang terjadi di lingkungan sekitar.

“Sekarang mulai muncul semangat masyarakat merasa bangga jika bisa mengatasi masalahnya sendiri. Kami tetap hadir, tapi juga perlu dukungan dan bantuan masyarakat,” kata Edy Susanto.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang mencatat terjadi 624 kejadian bencana selama tahun 2019. Jenis bencana yang paling banyak terjadi adalah angin kencang dan longsor mencapai 223 dan 203 kejadian.

Eskalasi bencana hidrometeorologi meningkat seiring dengan tingginya curah hujan. Selain longsor, curah hujan tinggi juga berpotensi menjadi penyebab banjir lahar di aliran sungai yang berhulu di puncak Gunung Merapi.

223