Home Kesehatan Wabah Corona di Cina, Distribusi Bahan Baku Obat Terganggu

Wabah Corona di Cina, Distribusi Bahan Baku Obat Terganggu

Jakarta, Gatra.com - Wabah virus novel corona (2019-nCoV) yang tengah melanda Wuhan, provinsi Hubei, Cina ternyata memberikan pengaruh besar terhadap industri farmasi di Indonesia.

“Hampir 50% bahan baku produksi farmasi di Indonesia diimpor dari Cina, selebihnya dari India dan beberapa negara lain. Sementara, infeksi virus yang menewaskan lebih dari 1000 jiwa tersebut membuat kondisi Cina terisolasi,” kata Ketua Umum Gabungan Pengusaha (GP) Farmasi Indonesia, Tirto Kusnadi, saat dihubungi Gatra.com, Selasa (11/2).

Tirto mengatakan, hal ini berdampak pada pendistribusian bahan-bahan baku ke Indonesia yang mengalami keterlambatan. Dampak lebih besar akan terasa kira-kira bulan Maret-April, di mana stok obat mulai menipis.

"Stok obat kita mungkin akan tetap terjaga sampai dengan akhir Maret menuju April. Cuma kalau keadaan tidak bisa normal lagi, mungkin Juni dan Juli mulai terpengaruh ya," katanya.

Tirto menyebut Indonesia masih dapat mengantisipasinya dengan mengambil bahan baku dari negera lain seperti India. Sayangnya, pabrik di India sebagian besar menyediakan bahan baku setengah jadi (intermediate material) yang juga diimpor dari Cina. 

“Harga di India pun jauh lebih mahal karena India tidak memproduksi bahan baku sebanyak Cina,” ujarnya.

"Perbedaan harganya juga tergantung barangnya. Tidak semua bisa disamakan. Ada yang bisa sampai 10%, 15% dan ada yang cuma 5%," tambah Tirto.

Selain itu, lanjut Tirto, kenaikan ini juga dapat mempengaruhi peredaran obat ke masyarakat yang 60% dibeli murah oleh BPJS Kesehatan. 

Nah, jika keadaannya terus menerus seperti ini, kata Tirto, dikhawatirkan harga bahan baku naik akan membuat industri-industri obat atau farmasi merugi. Pembayaran BPJS melalui rumah sakit juga tidak bisa dipastikan berapa lamanya.

"Sekarang kan juga masih banyak tunggakan obat dari pelanggan yang membeli kepada industri-industri farmasi melalui distributornya. Jadi, pasti akan ada pengaruh kalau harganya murah apakah masih bisa produksi atau tidak," terangnya.

Ia memperkirakan, harga obat akan naik cukup besar sekitar 20-30%. Sebab, saat ini saja sudah ada bahan baku yang naik sampai 30% yakni parasetamol yang merupakan obat paling dasar.

"Mungkin dalam waktu 1-2 minggu ke depan, barangkali akan naik lebih banyak lagi. Parasetamol itu kan bahan bakunya juga parasetamol, harga beli internasionalnya ini sudah naik," ujarnya.
 

393

KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR