Home Ekonomi NTB Targetkan Investasi Rp16 Triliun di 2020

NTB Targetkan Investasi Rp16 Triliun di 2020

Mataram, Gatra.com - Provinsi Nuas Tenggara Barat (NTB) menjadi ladang investasi yang cukup potensial. Tahun 2019 saja tercatat Rp10 triliun nilai investasi yang yang bias ditarik ke NTB. Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPM-PTSP) Provinsi NTB menyebutkan, dari triwulan I, II dan III tahun 2019, investasi yang terealisasi di NTB sebesar Rp7,1 triliun. Nilai tersebut sebagian besar didomonasi investasi dari asing.

Kepala Dinas DPM-PTSP NTB, Samsul Rizal mengungkapkan, tugas yang paling penting tahun 2020 ini adalah meyakinkan kembali para investor agar berinvestasi kembali. Promosi-promosi investasi tetap dilakukan dengan berbagai upaya, termasuk kemudahan-kemudahan berinvestasi juga menjadi perhatian.

“Tahun 2019 saja BKPM RI menargetkan NTB bisa mengukuhkan investasi senilai Rp16 triliun. Akan tetapi, gempa Agustus 2018 dirasa masih berdampak pada semangat investor untuk berinvestasi, BPKM-RI kemudian melakukan penyesuaian target investasi menjadi Rp13,3 triliun,” ungkap Samsul Rizal di Mataram, Sabtu (7/3).

Menurut Samsul Rizal, tahun 2020 ini dalam RPJMD yang telah disusun, taget investasi masih sebesar Rp16 triliun. Karena itu, selain promosi, juga meyakinkan kembali investor-investor yang masih wait and see untuk melanjutkan investasinya. .

Amsul Rizal menambahkan, calon-calon investor yang menunda investasinya masih memungkinkan dilanjutkan. Recovery ekonomi NTB harus dilakukan lebih cepat dan terus menerus. Jika menunggu investor baru, menurutnya butuh waktu dua sampai tiga tahun untuk memastikan investor berinvestasi.

”Kegiatan usaha apapun yang dilakukan oleh siapapun termasuk pembangunan yang dilakukan daerah memerlukan modal. Modal merupakan faktor yang amat penting di dalam setiap kegiatan usaha, karena modal merupakan sumber energi baik untuk kelangsungan, pengembangan, maupun pertumbuhan usaha. Lalu menambah lapangan pekerjaan, Investasi mempunyai arti penting pula di dalam penyerapan tenaga kerja, karena dengan adanya investasi baik nasional maupun asing, akan meningkatkan kegiatan atau menghidupkan kembali sektor riil,” ujar Samsul.

Samsul menambahkan, demikian juga alih teknologi. Pada umumnya, negara-negara yang sedang berkembang termasuk Indonesia dalam penguasaan teknologi lebih terbelakang dari negara maju, investasi yang pada umumnya dilakukan oleh investor negara maju diharapkan dalam menanamkan modalnya di Indonesia juga membawa teknologi yang maju dalam perusahaannya, sehingga apabila dalam proses produksinya mempekerjakan tenaga kerja Indonesia, maka tenaga kerja Indonesia akan menggunakan teknologi tersebut. Pada akhirnya tenaga Indonesia dapat menguasai teknologi yang di bawa oleh perusahaan asing tersebut. Kemudian mendukung penguatan PAD karena investasi dapat menggerakkan sektor riil.

“Tahun ini investasi juga akan ditertibkan. Termasuk ruko-ruko yang dibangun juga akan masuk dalam catatan investasi,” tutup Samsul Rizal.

 

162