Home Internasional Belajar dari Ebola, Sierra Leone Kini Hidup Tanpa Corona

Belajar dari Ebola, Sierra Leone Kini Hidup Tanpa Corona

Freetown, Gatra.com - Sierra Leone merupakan salah satu dari sedikit negara yang saat ini diketahui tidak ada warganya yang terinfeksi kasus virus corona, terkonfirmasi hingga Senin 23 Maret 2020.

Dikutip Al-Arabiya, Selasa (24/3), sebagai negara yang menanggung beban penderitaan paling besar akibat mewabahnya virus Ebola tahun 2014-2016 dengan jumlah terinfeksi 14.124 dan 3.956 kematian, Sierra Leone merasa tidak perlu mengambil resiko terlalu besar ketika pandemi virus corona baru mulai menyebar melalui Afrika Barat.

Sebelum wabah virus corona menyebar ke seluruh dunia, Sierra Leone merupakan salah satu dari dua negara di Afrika yang mempersiapkan diri karena memiliki fasilitas gedung menguji virus berupa P3-Lab, yang pernah dibangun Cina ketika virus Ebola mewabah.

Diketahui negara ini telah mendirikan tiga lokasi pengujian virus dengan kapasitas tampung sampai 40 ruangan tes sehari, terdapat 30 tempat tidur isolasi dengan 34 kelengkapan fasilitas di Rumah Sakit Militer. 

"Jika perlu, pusat isolasi 100 tempat tidur dapat dengan cepat didirikan di Rumah Sakit Persahabatan China di Jui," kata Menteri Kesehatan Prof. Alpha Wurie.

Dia menambahkan meski pihaknya masih kewaspadai terjadinya penyebaran namun mereka tidak pernah takut. Di negara ini juga banyak mendapatkan bantuan dari Cina.

Duta Besar Tiongkok untuk Sierra Leone, Hu Zhangliang mengatakan Beijing menyumbangkan 1.000 alat uji, 1.000 masker bedah, 1.000 sarung tangan medis, 500 respirator N95, 500 seragam pakai pelindung, 200 kacamata medis, dan generator 50 kva.

Ketika terjadi wabah, aparatnya segera bertindak melakukan pencegahan. Pemerintah setempat mengeluarkan perintah dengan tindakan pencegahan termasuk penangguhan semua perjalanan ke luar negeri oleh pejabat pemerintah. 

Diterapkan pula larangan pertemuan publik lebih dari 100 orang dan semua kegiatan termasuk olahraga. Militer juga telah dikerahkan di bandara dan perbatasan darat untuk karantina bagi semua penumpang yang datang dari negara-negara terinfeksi virus.

"Pada saat ini, kami tidak melihat alasan mereka panik atau mengunci diri," kata Presiden Sierra Leone, Julius Maada Bio dalam sebuah pidato. 

"Tetapi segala sesuatunya dapat berubah dengan sangat cepat dan kami akan merespons perubahan cepat ini dengan kuat, hingga menyatakan keadaan darurat, untuk melindungi kesehatan dan keselamatan masyarakat," tambahnya.

Dalam sebuah tweet pada 19 Maret, Bio mengonfirmasi bahwa negaranya sedang mempersiapkan jika terjadi penyebaran virus corona sekalipun hingga kini belum ada kasus terinfeksi yang dikonfirmasi.

“Meskipun tidak ada kasus virus corona yang dikonfirmasi di Sierra Leone saat ini, Kementerian Kesehatan dan Sanitasi telah mengaktifkan Pusat Operasi Darurat ke Tingkat 2 untuk mengoordinasikan kesiapsiagaan dan tanggapan awal. Kami telah mengaktifkan nomor kontak Darurat 117,” kata Bio.

Dalam pernyataan lain, presiden mengatakan dia telah mengarahkan militer untuk "segera menyebar ke bandara internasional kami dan titik-titik penyeberangan darat untuk meningkatkan keamanan dan mendukung kepatuhan” dengan semua petunjuk arahan kesehatan masyarakat."

Pekan lalu, Sierra Leone bertindak cepat ketika ada laporan masuknya empat warga Jepang sekeluarga yang dicurigai salah satu dari mereka disebutkan ada menderita batuk di atas pesawat Kenya Airways.

Kementerian transportasi langsung mengeluarkan pemberitahuan selama 72 jam kepada semua maskapai untuk menghentikan penerbangan ke negara itu, yang mulai efektif berlaku 21 Maret, terkecuali untuk penerbangan medis darurat.
 

324

KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR