Home Ekonomi Bos BI Akui Pelonggaran Kuantitatif Belum Maksimal

Bos BI Akui Pelonggaran Kuantitatif Belum Maksimal

Bos BI Akui Pelonggaran Kuantitatif Belum Bisa Gerakkan Sektor Riil

Jakarta, Gatra.com - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengaku, langkah pelonggaran kuantitatif atau Quantitative Easing yang telah dilakukan Bank Sentral belum mampu sepenuhnya mengalir dan menggerakkan sektor riil seperti yang diharapkan. Karena itulah, kemudian masih diperlukan tambahan stimulus fiskal dari pemerintah.

Dengan tujuan untuk menumbuhkan konsumsi masyarakat, menopang keberlangsungan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dan dunia usaha lainnya.

"Nah masalahnya likuditas yang kami sudah injeksi di sektor keuangan ini bagaimana mengalir ke sektor riil, itulah masalahnya di situ. Sehingga injeksi likuiditas yang dilakukan bank sentral bisa menumbuhkan konsumsi masyarakat, menumbhuhkan UMKM, menumbuhkan dunia usaha," ujar dia dalam video conference, di Jakarta, Kamis (2/4).

Baca jugaBI Optimistis Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Minimal 2,3%

Hal itulah yang kemudian membuat pemerintah untuk menambah defisit sebesar Rp70 triliun untuk dialirkan ke sektor kesehatan. Begitu juga dengan tambahan anggaran sebesar Rp110,1 triliun untuk jaring pengaman sosial atau social safety net.

"Sehingga masyarakat ini bisa melakukan aktivitas sehari-hari, bisa melakukan konsumsinya. Sehingga konsumsi masyarakat yang selama ini menjadi daya dukung dari pertumbuhan ekonomi terus bisa kita dukung melalui stimulas fiskal," jelas dia.

Tidak hanya itu, untuk memulihkan ekonomi, pemerintah juga menambah anggaran sebesar Rp70 triliun yang nantinya akan disalurkan melalui stimulus pajak, keriganan kredit usaha rakyat (KUR) dan lainnya. Sedangkan untuk memulihkan sektor industri, pemerintah menambah anggaran sebesar Rp150 triliun.

Sebelumnya, BI telah melakukan langkah Quantitative Easing, yakni dengan menyuntikan likuiditas di pasar uang sebesar Rp300 trilun dan menurunkan suku buga acuan hingga ke level 4,25 persen.

"Kalau ditanya kenapa BI tidak melakukan langkah quantitative easing, lho kan sudah.  BI sudah menginjeksi hampir Rp300 triliun di samping menurunkan suku bunga menjadi sekarang 4,5%. Itu langkah-langkah yang dilakukan bank sentral," tandas Perry.
 

108