Home Internasional Corona Memburuk, Warga AS Didesak Pakai Masker Keluar Rumah

Corona Memburuk, Warga AS Didesak Pakai Masker Keluar Rumah

Washington, D.C, Gatra.com - Pemerintahan Trump akan mengeluarkan langkah tegas kepada warganya yang berkeliaran untuk tetap mengenakan pelindung diri setidaknya dengan menggunakan masker wajah ketika Pandemi Virus Corona semakin meningkat, yang tercatat jumlah korban meninggal mencapai 1.000 dalam satu hari untuk kali pertamanya.

Berbicara di pengarahan Gedung Putih, anggota gugus tugas virus corona Presiden Donald Trump, Deborah Birx, mengatakan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS akan mengeluarkan pedoman dalam beberapa hari mendatang mengenai penggunaan penutup wajah.

Meski Birx tetap memperingatkan warga Amerika, untuk tetap tinggal di rumah kecuali mengikuti kegiatan penting yang terasa harus dihadiri di luar, dengan menyiapkan kelengkapan pengenaan berupa topeng pelindung. 

Pada Kamis malam, jumlah korban tewas di AS akibat COVID-19, telah mencapai 5.821, dengan lebih dari 241.000 kasus positif di seluruh 50 negara bagian.

Hingga kamarin Pandemi secara global ini telah melampaui 1 juta dengan lebih dari 52.000 jumlah kematian, menurut penghitungan Reuters berdasarkan data negara per negara.

Para ahli medis di Gedung Putih memperkirakan jatuhnya korban jiwa bisa tembus antara 100.000 hingga 240.000 orang, jika warganya tidak mengikuti aturan yang ditetapkan pemerintah setempat.

Sebelumnya, pemerintahan Trump, tim gugus tugas CDC, dan pejabat kesehatan masyarakat meragukan penggunaan masker wajah sejak pandemi virus meletus, dan menyebut kepada orang yang sehat bahwa tindakan seperti itu tidak perlu atau bahkan kontra-produktif.

Belakangan di New York City, pusat wabah AS dimulai, Walikota Bill de Blasio mendesak warga untuk memakai penutup wajah, mengutip penelitian yang menunjukkan bahwa virus dapat ditularkan oleh orang yang terinfeksi dengan tidak menunjukkan gejala.

"Apa itu artinya ketika kamu mengenakan wajah yang menutupi kamu, berarti melindungi orang lain," kata de Blasio. Walikota Demokrat itu menyarankan warga New York menggunakan syal atau topeng buatan sendiri mengingat perlengkapan medis sangat terbatas.

Malah, persediaan darurat peralatan medis yang ditangani pemerintah AS hampir kehabisan pakaian pelindung bagi dokter dan perawat.

Di New York City, yang mana setidaknya ada 1.400 orang telah meninggal akibat virus, sedangkan paramedis rumah sakit masih berjuang mengobati pasien yang ada dan petugas kamar mayat juga terus menguburkan mereka yang telah meninggal dunia.

Rumah pemakaman dan direktur pemakaman New York City mengungkapkan lonjakan permintaan peti mayat yang selama ini tidak terjadi dalam beberapa dasawarsa ketika kasus melampaui 50.000 positif di kota tersebut.

Bahkan tempat Krematorium memperpanjang waktu mereka beroperasi sampai malam, dengan jumlah jenazah yang menumpuk begitu cepat, sehingga para pejabat di kota itu berusaha mencari tempat lain di negara bagian, untuk disimpan di tempat-tempat sementara.

"Kami telah mempersiapkan skenario terburuk, yang dalam banyak hal mulai terwujud," kata Direktur Asosiasi Direktur Pemakaman Negara Bagian New York, Mike Lanotte.

Reuters tidak dapat mengkonfirmasi apakah jenazah tersebut korban virus corona dan administrator rumah sakit juga tidak bisa dihubungi untuk dimintai komentar.

Operator Beatrice Pereira menyebut pihaknya tidak tersedia diminta tanggapan saat ini, mengingat semua orang sibuk menyelamatkan nyawa mereka.

282

KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR