Home Kesehatan Di Tengah Pandemi, Akses Air Bersih Jadi Persoalan di Riau

Di Tengah Pandemi, Akses Air Bersih Jadi Persoalan di Riau

Pekanbaru, Gatra.com - Anjuran cuci tangan merupakan salah satu upaya membentengi diri dari penyebaran COVID-19. Anjuran itu  sepertinya menjadi tantangan tersendiri bagi sebagian masyarakat Priovinsi Riau. Pasalnya, di beberapa kawasan Riau masih sulit mengakses air bersih.

Kepala Ombudsman Perwakilan Provinsi Riau, Ahmad Fitri, mengatakan sebagian penduduk yang menghuni kawasan Pesisir Riau masih kesulitan dengan akses air bersih. "Kita pernah melakukan kajian tahun 2019 soal pelayanan air bersih, di Indragiri Hulu, Indragiri Hilir dan Bengkalis.  Tiga Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) tidak mampu memberikan layanan air bersih kepada masyarakat," katanya, Jum'at (10/4). 

Ahmad mengatakan kesulitan tersebut juga dilatari oleh karakteristik wilayah yaitu tanah gambut, dan berbatasan dengan laut. Hasilnya air payau menjadi pilihan untuk digunakan. Air payau merupakan campuran antara air tawar dengan air asin.

"Kalau pun bersih tidak sampai pada kategori layak minum. Hanya untuk cuci, itu pun sebagian kalau cuci menimbulkan bekas," urainya. 

Kondisi tersebut menyebabkan sebagian besar warga di Pesisir Riau mengandalkan air hujan yang disimpan di tangki-tangki. Namun, ketika kemarau tiba dan stok air hujan yang dimiliki menipis, maka warga setempat terpaksa harus membeli air bersih dari pengusaha air isi ulang.

Kondisi seperti ini lazim ditemukan di Kabupaten Kepulauan Meranti. Harga air pun bervariasi mulai dari Rp3.000 per galon isi ulang sampai Rp100.000 per tangki berkapasitas 5.000 liter.

Adapun, dalam mencegah penyebaran COVID-19 air bersih dibutuhkan untuk keperluan menjaga pola hidup sehat, seperti mencuci tangan dan banyak minum air putih.

Sebagai informasi, merujuk data Badan Peningkatan Penyelenggaraan Sistem Penyediaan Air Minum (BPPSPAM) Kementerian PUPR 2018, berdasarkan hasil penilaian kinerja terhadap 374 dari total 391 PDAM di Indonesia, didapati hanya 223 PDAM atau 57% yang berkinerja sehat. Sisanya 99 PDAM (25%) kurang sehat, 52 PDAM (13%) berkinerja sakit, dan 17 PDAM tercatat belum dinilai.

Secara terpisah, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) area Riau dr.Zul Asdi mengungkapkan cuci tangan memang dianjurkan untuk melindungi diri dari COVID-19. Namun, yang terpenting adalah ketersedian sabun.

"Yang penting cucinya pakai sabun. Akses air bersih itu satu hal, namun bukan hanya itu karena mesti pakai sabun," ucapnya.
481