Home Internasional Penelitian Obat Covid-19 Gagal, Saham Asia Jatuh

Penelitian Obat Covid-19 Gagal, Saham Asia Jatuh

Tokyo/Washington, D.C, Gatra.com - Saham Asia dan saham berjangka AS jatuh pada Jumat, didorong keraguan mengenai perkembangan penelitian obat atau vaksin COVID-19, yang juga memperlihatkan terjadinya kerusakan terhadap ekonomi AS yang disebabkan pandemi virus corona.

Dikutip Reuters, Senin (24/4), Indeks MSCI dari saham Asia Pasifik di luar Jepang mengalami penurunan 0,4%. Saham berjangka AS, S&P 500 e-minis, turun 0,72%.

Saham di China, tempat virus corona pertama kali muncul akhir tahun lalu, juga turun 0,25%.

S&P 500 dan Nasdaq berubah menjadi negatif pada penutupan hari Kamis setelah adanya laporan bahwa obat antiviral produksi Gilead Sciences Inc gagal memproduksi obat COVID-19 dalam uji klinis pertamanya.

Gilead mengatakan temuan yang diperoleh tidak meyakinkan karena studi yang dilakukan di Cina dihentikan lebih awal.

Kepala strategi investasi di perusahaan manajemen kekayaan yang berbasis di New York Inverness Counsel, Tim Ghriskey, menyebut sensitivitas pasar terhadap berita yang berkaitan dengan pengobatan, perawatan dan vaksin medis COVID-19 menunjukkan keputusasaan investor.

"Sebuah berita buruk kemungkinan akan mengguncang pasar," kata Ghriskey. 

"Para investor berharap bahwa mereka dapat segera merangkak keluar dari rumah mereka dan melanjutkan aktivitas di kehidupan normal, meski penuh ketakutan," tambahnya.

Sebuah survei mengungkapkan aktivitas bisnis AS juga merosot ke rekor terendah pada bulan April. Kejadian itu menunjukkan kekhawatiran pasar di Eropa dan Asia mengingat pesan untuk tetap tinggal du rumah, yang menyebabkan keterlambatan produksi sehingga menganggu rantai pasokan.

Dewan Perwakilan Rakyat AS pada hari Kamis mengeluarkan dana $484 miliar untuk menambah kesulitan yang dihadapi para usaha kecil dan rumah sakit yang saat kewalahan menghadapi banyak pasien Covid-19. 

Presiden Donald Trump memberi sinyal pada hari Kamis akan menandatangani RUU yang akan memperluas pedoman mengatur jarak sosial di masyarakat hingga awal musim panas mendatang.

Indeks saham MSCI di seluruh dunia juga turun 0,23%.

Di Jepang, indeks saham Nikkei turun 0,86% di tengah kekhawatiran penyebaran infeksi sebelum libur publik Golden Week.

Saham di Korea Selatan, juga turun 0,76%, sekalipun mendapat dukungan langkah-langkah selama ini untuk menahan virus corona.

Sedangkan saham Australia mengalami kenaikan 0,4% hanya untuk sektor energi dan sumber daya.

Yen sedikit berubah di angka 107,60 melawan dolar. Mata uang Jepang sempat turun setelah surat kabar Nikkei melaporkan bahwa Bank of Japan akan mempertimbangkan pembelian obligasi pemerintah tanpa batas dalam pertemuan kebijakan Senin pekan depan.

Harga minyak tetap memperpanjang rebound tentatif akibat jatuhnya harga pada pekan lalu, yang mendorong minyak mentah AS untuk pertama kalinya turun drastis. Investor masih tetap khawatir permintaan energi dan kelebihan pasokan minyak mentah.

Minyak mentah AS naik 3,94% menjadi $ 17,15 per barel, sementara minyak mentah Brent naik 3,09% menjadi $ 21,99 per barel di Asia karena beberapa produsen minyak mengatakan mereka akan memajukan penurunan produksi.

Beberapa negara mengalami keterbatasan ruang untuk menyimpan minyak mentah yang tidak mereka gunakan.

Di tempat lain pada pasar mata uang, euro menuju penurunan mingguan kedua terhadap dolar setelah Uni Eropa sepakat pada hari Kamis untuk menyiapkan dana keuangan bersama 2 triliun euro guna membantu pemulihan akibat pandemi.
 

11450

KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR