Home Ekonomi BI Prediksi Ekonomi Melambat, Ini yang Perlu Dilakukan Pemda

BI Prediksi Ekonomi Melambat, Ini yang Perlu Dilakukan Pemda

Palembang, Gatra.com – Pertumbuhan ekonomi diprediksi kian melambat di kuartal II dan III tahun ini akibat pandemi covid 19. 

Bank Indonesia Perwakilan Sumsel memprediksi pertumbuhan ekonomi pada dua kuartal tersebut akan lebih rendah dibandingkan pada kuartal I kemarin. Upaya yang dapat dilakukan Pemda yakni dengan menjaga geliat konsumsi rumah tangga (RT) sekaligus menjaga iklim usaha ekonomi mikro (UMKM).

Kepala Bank Indonesia Perwakilan Sumsel, Hari Widodo mengatakan pada kuartal I, pertumbuhan ekonomi Sumsel mampu menyentuh angka 4,98%. Pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan rata-rata secara nasional dan regional Pulau Sumatera. Hal itu dikarenakan kondisi ekonomi pada Januari-Februari masih dalam katagori belum banyak terpengaruh wabah global, pandemi Covid 19

“Di Sumsel, Covid 19 baru terasa di Maret atau akhir Maret. Ini mengakibatkan ekonominya masih terjaga, namun diprediksikan ekonomi akan kian melambat di kuartal II dan III. Pengaruhnya covid 19 ini, ada namun tidak dalam. Di kuartal selanjutnya yang dipastikan akan lebih terasa perlambatan ekonomi,” ujarnya dalam media briefing yang digelar Bank Indonesia Perwakilan Sumsel secara virtual, Jumat (8/5).

Hari mengungkapkan langkah antisipasi guna menjaga pertumbuhan ekonomi pada kuartal selanjutnya dapat dilakukan dengan menjaga konsumsi RT. Stuktur Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sumsel yang disokong 60% dari konsumsi ini mesti dipertahankan. Karena, jika stuktur dengan pengaruh yang paling dominan ini terganggu maka dipastikan berpengaruh pada sektor lainnya. “Sudah tepat, Pemerintah melalui kebijakan fiskal untuk menjaga daya beli, termasuk menyalurkan bantuan (Jaring Pengaman Sosial) bagi warga yang terdampak covid 19, termasuk juga donasi-donasi yang digelar untuk itu,” ujarnya.

Pemberian bantuan yang dilakukan pemerintah akan mempertahankan daya beli masyarakat yang menjadi unsur pembentuk stuktur konsumsi RT. Bantuan pengamanan sosial, sambung Hari, hendaknya bisa tepat pada masyarakat terdampak covid 19, seperti pekerja non formal, pekerja yang mengalami pemutusan hubungan kerja, dan masyarakat rentan terdampak covid 19 agar dapat bertahan.

“Karena kejadian ini luar biasa, karena perlu Itu perlu kebijakan yang tidak biasa ditempuh. Pemeritah daerah, dapat. melakukan intervensi-intervensi. Paling mendasar, yakni penyelematan kesehatan seperti penyediaan alkes dan penyelematan ekonominya,” terang Hari.

Sementara itu, upaya lainnya yang bisa ditempuh pemerintah daerah saat pandemi covid 19 ini, dengan mempertahankan geliat ekonomi mikro. Pada masa pandemi ini, banyak sektor usaha yang mengubah jenis usahanya seperti menjadi produsen alat pelindung diri (APD), penyedia kebutuhan pokok dan lainnya. Perubahan akibat kondisi  pandemi ini juga diharapkan menjadi pendorong gerak ekonomi daerah, termasuk juga bagaimana makin bisa menggerakkan geliat ekonomi digital di daerah.

" Dengan kondisi masyarakat yang lebih banyak membatasi gerak (aktivitas), menjadi peluang meningkatkan transaksi digital melalui usaha-usaha baru. Bagaimana usaha seperti ini makin tumbuh, dengan kemudahan atau bantuan kreativitasnya,” ungkap Hari.

Kondisi ekonomi saat pandemi kali ini, diakui Hari cukup berbeda dibandingkan dengan kondisi krisis-krisis ekonomi sebelumnya. Misalnya, di krisis 1998 masih disokong geliat ekonomi mikro  yang tumbuh atau berpartisipasi positif pada ekonomi. “Saat krisis pandemi kali ini, tantangannya bagaimana sektor UMKM harus terselamatkan,” ucapnya.

BI prediksi pertumbuhan ekonomi Sumsel pada tahun ini hanya berada di 3,4% dengan prediksi pada kuartal II dan III berada di 2,9%-3% dan akan mengalami pemulihan di kuarta IV dengan kisaran 3% yang akan kembali pulih secara bertahap dan tumbuh 5,8% pada tahun 2021.

263