Home Kesehatan Reaksi Publik Digital Terkait Naiknya Tarif BPJS Kesehatan

Reaksi Publik Digital Terkait Naiknya Tarif BPJS Kesehatan

Jakarta, Gatra.com - Presiden Jokowi memutuskan untuk menaikkan iuran BPJS yang ditandatangani pada 5 Mei 2020. Kenaikan itu tertuang dalam Peraturan Presiden (Perpres) No. 64 Tahun 2020 tentang Perubahan Kedua atas Perpres No. 82 Tahun 2018 tentang JaminanKesehatan. Kenaikan di tengah pandemi ini menerbitkan pertanyaan mengingat masyarakat sedang berada dalam titik nadir ekonomi dan sebelumnya kenaikan premium ini telah pernah dibatalkan MA. 

Center for Media and Democracy, LP3ES bekerjasama dengan Drone Emprit melakukan analisa big data untuk menelisik lebih dalam reaksi publik terkait sebagaimana terekam dalam percakapan di media sosial. 

Direktur Center for Media and Democracy Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), Wijayanto mengatakan ada 3 periode yang dianalisa yaitu pada Periode I dari 5 Mei - 13 Mei 2020, atau sejak Perpres itu ditandatangi presiden sampai 8 hari setelahnya. Periode II dari 14 Mei hingga 25 Mei 2020. Periode III dari 5 Mei hingga 25 Mei 2020 atau sejak Perpres terbit hingga sekitar 3 minggu setelahnya.

“Sebagai metode, LP3ES menggunakan software Astramaya yang dikembangkan oleh Drone Emprit yang berfungsi untuk melakukan analisa big data yang muncul dari percakapan di berbagai media sosial dan media daring,” kata Wijayanto, dalam keterangannya di Jakarta, Senin (1/6). 

Wijayanto menyebut bahwa dari penelitian yang dilakukan ditemukan hal-hal yakni, pertama, sejak dinyatakan kenaikannya pada 5 Mei hingga 25 Mei, kenaikan premium BPJS mendapat banyak sorotan netizens di semua platform media mulai darimedia sosial seperti twitter, facebook, youtube dan instagram hingga media daring dengan total 115.599 percakapan. 

“Dari seluruh percakapan volume palingbesar terjadi di twitter sebesar 101.745 percakapan,” katanya.

Kedua, lanjut Wijayanto dari seluruh percakapan di twitter, penelitian ini menemukan tingginya sentimen negatif warganet yang muncul dengan prosentase yang lebih besar daripada mereka yang memilki sentimen positif. 

“Total sejak 5 hingga 25 Mei (periode ketiga analisa), hampir separuh warganet (48%) memiliki sentimen negatif pada kenaikan ini. Lebih besar dari mereka yang memiliki sentimen positif atau 46%,” katanya.

Ketiga, kata Wijayanto, juga menarik dicatat adalah adanya dinamika reaksi netizen. Dari 3 periode yang dianalisis, tampak bahwa pada mulanya di periode pertama analisa (5-13 Mei) mereka yang punya  sentimen positif (54%) masih lebih besar dari pada yang memiliki sentimen negatif (42%). Namun pada periode kedua (14-25 Mei) terjadi lonjakan peningkatan sentimen negatif yaitu sebesar separuh warganet (50%) memiliki sentimen negatif terhadap kebijakan ini. 

“Lebih besar daripada mereka yang positif (44%). Dalam hal ini tampak bahwa pemberitaan media daring yang menjadikan topik ini sebagai headline ikut membawa pengaruh pada lonjakan sentimen negatif. Dengan kata lain, media arus utama secara umum memiliki sentimen negatif pada kenaikan ini. Salah satu cuitan yang paling banyak diretweet justru dari akun media daring yang berjudul; Iuran BPJS Naik Lagi, Masyarakat KenaPrank Jokowi,” katanya.

Adapun yang Keempat, kata Wijayanto dari sisi emosi yang paling menonjol yang kaitannya dengan kepercayaan namun dalam pengertian negatif;distrust sebanyak 5800 postingan. Ini berjalan beriring dengan distrust publik dalam penangangan corona. 

“Artinya kebijakan ini justru menerbitkan distrus tang semakin tinggi kepada pemerintah, setelah distrust terkait penangangan corona,” ujarnya.

Adapun kelima, dari sisi narasi, pertanyaan utama publik berkisar pada persoalan: (1) Inkonsistensi yang terjadi karena sebelumnya MA telah membatalkan kenaikan; (2) Timing penaikan tarif yang beriringan  dengan pandemi dan (3) Kekecewaan publik yang mengharapkan Jokowi untuk tidak mengambil kebijakan seperti ini.

Selanjutnya, keenam, dari sisi tagar, tagar yang paling banyak digunakan adalah yang bernada menyerang pemerintah.

Ketujuh, dari sisi aktor yang terlibat dalam percakapan ini cukup beragam dari mulai kubu oposisi, masyarakat sipil dan kubu pro pemerintah, beberapa yang paling berpengaruh dan mendapat banyak retweet adalah: media daring. 

“Semuanya adalah akun organik karena sangat sedikit ditemukan akun robot yang terlibat dalam perdebatan. Secara kesuluruhan dapat disimpulkan bahwa publik melihat jaminan kesehatan sebagai satu hal yang penting untuk mereka, sehingga topik kenaikan tarif BPJS ini tetap mendapat perhatian selama berminggu-minggu bahkan selama satu bulan terakhir,” katanya.

Ini penting dicatat mengingat tidak semua isu publik mendapat perhatian dalam rentang yang begitu lama. Catatan LP3ES dan Drone Emprit menemukan bahwa tiap isu rata-rata menjadi perbincangan selama 1 minggu bahkan ada yang hanya beberapa hari saja. 

Dari perspektif kewarganegaraan, sebenarnya ini merupakan pertanda positif tentang semakin menguatnya kesadaran publik terkait hak-hak mereka yang merupakan satu pertanda dari adanya satu civic values yang yang penting bagi pematangan demokrasi. Konstitusi mengamanatkan bahwa melindungi setiap tumpah darah Indonesia dan penghidupan yang layak bagi setiap warga adalah di antara tujuan didirikannya republikini. 

“Jika pemerintah dapat mengelola isu ini dengan baik dan meresponnya dengan kebijakan yang tepat, maka ia bisa menjadi satu catatan prestasi yang dikenang oleh sejarah dan bermakna untuk mendorong terwujudnya demokrasi substantif yang ditandai dengan telah terpenuhinya hak asasi warga negara,” katanya.
 

370

KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR