Home Politik Boediono: Krisis Itu Menelanjangi, Waspada Kejatuhan Ekonomi

Boediono: Krisis Itu Menelanjangi, Waspada Kejatuhan Ekonomi

Jakarta, Gatra.com – Gelombang wabah corona yang berkepanjangan dikhawatirkan akan “memukul” perekonomian Indonesia. Pada kuartal I-2020, angka pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya berkisar di angka 2,97%. Capaian tersebut jauh dari prediksi pertumbuhan ekonomi nasional yakni berkisar 4,5-4,9% di kuartal I-2020.

Mantan Wakil Presiden Boediono mengatakan semua pihak harus waspada terhadap efek domino dari wabah corona. Krisis Covid-19 yang berlangsung panjang dikhawatirkan akan memukul ekonomi Indonesia lebih curam lagi.

“Krisis ini adalah krisis yang unik sekali yang belum pernah kita alami dimana pencetusnya adalah di luar yang biasa kita kenal di dalam ekonomi, apakah pada capital out atau negara yang melakukan sesuatu yang aneh, proteksi segala macam. Tetapi ini jauh di luar kita-kita yang biasa memonitor ekonomi,” ujarnya dalam sesi diskusi virtual pada Senin (15/6).

Ketua Dewan Penasihat Indonesian Institute for Public Governance (IIPG), kehadiran wabah corona membawa dampak terhadap semua sektor termasuk budaya dan kebiasaan. “Krisis itu selalu menelanjani kita, ada borok-borok yang dulu kita tutup dengan pakaian di dalam keadaan normal; sekarang terbuka termasuk kelemahan-kelemahan dalam public health kita. Nanti juga kelemahan kita yang lain lagi di bidang ekonomi dan keuangan. Itu merupakan dampak dari pandemi ini,” ujarnya.

Indonesia menurutnya dapat belajar dari krisis ekonomi pada 1998. Pandemi wabah corona yang tidak tertangani dengan baik juga dapat memicu resesi yang sama terulang. “Ini dampaknya luar biasa, lockdown dari awal demand dan supply bersamaan. Waktu dulu kita mengalami krisis 1998, katakan ada lockdown misalnya bank-nya enggak bisa jalan, kreditnya macet, lalu menjadi masalah real sector, PHK dan seterusnya. Itu masih ada waktu supply dan demand untuk meng-charge. Kalau misalkan kurs dolar waktu itu naik sulit didapat oleh bank untuk memenuhi kebutuhan, masih ada cara bagaimana membayar lebih tinggi biayanya,” katanya.

Boediono bercerita pada krisis ekonomi 1998, pemerintah terpaksa menutup 16 bank akibat dampak ekonomi. Kejatuhan bank tersebut menyerempet pada kejatuhan ekonomi karena sentimen pasar yang buruk. “Psikologis seperti itu terjadi secara pasar sebelum sosmed ini ada. Kalau sekarang kita main-main dalam psikologi seperti itu yo repot”.

Pemerintah menurutnya sudah tepat mengambil “jalan tengah” dengan memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diikuti dengan kebijakan normal baru. Dengan itu perlahan ekonomi akan tetap berjalan meski berada di bawah level yang seharusnya.

“Kita katanya akan berjalan menuju new normal, masalah ini secara garis besar is oke, enggak ada pilihan lain kok. Tetapi masalahnya konten yang realistisnya bagaimana, pilihan kita PSBB ini dalam praktik isinya apa, kan itu yang perlu kita alami dan laksanakan,” katanya.

Dirinya berpandangan keseimbangan kebijakan dengan melihat pada aspek kesehatan publik dan dampak ekonomi efektif dilakukan dengan langkah yang tepat. “Kita lockdown supaya aman public healthnya ya enggak mungkin. Di sisi lain kalau kita lepas ekonomi saja supaya orang enggak mati; bukan karena pandemi, tapi karena kelaparan. Tapi menurut saya mati kelaparan itu masih panjang, jauh itu. Sebelum mati kelaparan orang akan marah, ini yang lebih mengkhawatirkan,” pungkasnya.

10889