Home Internasional Ketegangan Global, Perang Dunia III Kini Diambang Mata?

Ketegangan Global, Perang Dunia III Kini Diambang Mata?

Cina-India Berseteru, Konflik Korea, Perang Dunia Diambang Mata?

Oleh: Yohanes Sulaiman*

 

Apakah Perang Dunia III akan terjadi dalam waktu dekat? Itu pertanyaan yang sering ditanyakan jika terdengar eskalasi konflik atau ketegangan di daerah-daerah yang memang sering terjadi pertikaian, seperti di perbatasan Korea Utara dan Selatan dan perbatasan Cina dan India. Juga, semakin memanasnya hubungan antara Amerika Serikat dan Cina selalu meningkatkan kekhawatiran masyarakat yang mengikuti berita-berita di luar negeri.

Namun kekhawatiran tersebut sangat tidak beralasan. Yang selalu dilupakan adalah fakta bahwa setiap pembuat kebijakan selalu memperhatikan kepentingan negaranya, saat ini di ketiga kasus di atas, tidak ada negara yang memiliki kepentingan untuk melakukan eskalasi, mendeklarasikan perang. Alasannya sederhana: perang di dunia modern tidak menguntungkan karena potensi kehancuran yang akan dialami sangat tinggi sedangkan keuntungan yang didapatkan tidak besar. Seperti menurut Geoffrey Blainey, seorang sejarahwan Australia, perang terjadi jika kedua pihak memilih untuk berperang.

Misalnya perselisihan antara India dan Cina. Apa yang sebetulnya dipertaruhkan oleh kedua negara tersebut? Harga diri negara, tentunya, sehingga tak heran dalam beberapa minggu belakangan ini, setelah terjadinya perkelahian antara tentara India dan Cina di perbatasan, kedua negara meningkatkan jumlah tentaranya.

Tapi apakah demi harga diri bangsa India akan berperang yang akan mengorbankan banyak jiwa dan harta, demi wilayah perbatasan yang sangat sulit dijangkau karena terletak 4.350 meter di atas permukaan laut? Pemerintah India pada dasarnya tidak menginginkan perang melawan Cina. Tak heran kalau Perdana Menteri Narendra Modi kemudian menekankan bahwa India tidak menginginkan perang dan mengecilkan perkelahian tersebut.

Namun, pada saat yang sama, pemerintah Modi pun meningkatkan jumlah tentara di perbatasan, karena perkelahian di perbatasan tersebut telah memakan korban 20 prajurit tewas, dan berpotensi menjadi masalah politis bagi pemerintah Modi yang menempatkan dirinya sebagai pelindung India. Jika pemerintah Modi diam saja maka oposisi tentu saja akan menerkam, menuduh pemerintah Modi tidak nasionalis dan tak mau mempertahankan wilayah India dari Cina. Karena itu, keputusan yang diambil adalah melakukan penambahan jumlah tentara, namun pada yang sama, mengecilkan keseriusan konflik tersebut.

Sama untuk Cina juga. Perkelahian tersebut pun menimbulkan korban di pihak Cina. Cina yang memiliki pemerintah otoriter langsung menyensor informasi tersebut, sehingga sampai sekarang tidak jelas berapa korban dari pihak Cina, walaupun beberapa sumber menyatakan 43 tentara Cina tewas dalam perkelahian tersebut. Pilihan Cina untuk tidak mengakui berapa jumlah korban di pihaknya selain untuk menjaga harga dirinya, juga agar isu ini tak menyulut api nasionalisme di dalam Cina sendiri. Pada dasarnya, pemerintah Cina pun menganggap konflik di perbatasan ini tak boleh bereskalasi menjadi perang.

Dengan kata lain, buat kedua negara tersebut, walaupun isu perbatasan merupakan hal yang penting, namun isu itu tidak begitu penting sampai kedua negara memutuskan untuk berperang. Mungkin kalau terjadi perang besar, potensi Cina untuk menang cukup tinggi, mengingat belanja militer Cina (US$261 trilliun) jauh lebih tinggi daripada India (US$71.1 trilliun ) – dan sudah jelas hal itu menjadi kalkulasi pemerintah Modi. Begitu pula bagi Cina: menang atau kalahnya sebuah negara dalam perang ditentukan oleh banyak faktor, tak hanya belanja militer, misalnya kondisi geografis. Lebih mudah bagi India untuk mengirimkan pasukan ke perbatasannya daripada Cina. Belum lagi, semakin memburuknya hubungan antara Cina dengan Amerika Serikat.

Selain itu, faktor-faktor non-militer pun penting Cina adalah partner dagang terbesar India, setelah Amerika Serikat, dan Cina merupakan tujuan ekspor India nomor tiga setelah Amerika Serikat dan Uni Emirat Arab. Eskalasi perang artinya memutus hubungan ekonomi yang sangat menguntungkan bagi kedua negara tersebut.

Ini bukan berarti bahwa perang antara India dan Cina tak akan pernah terjadi. Perang tetap bisa saja terjadi, karena perang memang sebuah kenyataan dalam dunia diplomasi internasional. Namun jikalau perang terjadi, itu akan disebabkan oleh pertikaian yang jauh lebih besar, yang dianggap berisiko mengancam keselamatan negara tersebut.

 

Tentang Penulis:

*Yohanes Sulaiman adalah lektor dan analis politik di jurusan Hubungan Internasional, Universitas Jenderal Achmad Yani. Fokus penelitiannya budaya strategis dan sejarah diplomatik Indonesia, isu keamanan-politik Asia dan global, serta hubungan sipil militer. Ia mendapatkan Ph.D dari The Ohio State University, Columbus, OH, USA.

5888