Home Info Sawit Cerita Cuci Darah dan Lulus Beasiswa

Cerita Cuci Darah dan Lulus Beasiswa

233

Pekanbaru, Gatra.com - Dede Solehudin mencium lembut punggung telapak tangan lelaki itu. Tak bisa lagi dia membendung air matanya. Marsikun, air matanya juga tumpah. Antara sedih dan bahagia lelaki 57 tahun ini melepas anak keduanya itu pergi jauh.

Dede juga begitu, berat meninggalkan ayahnya. Sebab biasanya, alumnus SMK 1 Kempas Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau, dua tahun lalu inilah yang mengantar Marsikun cuci darah ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tembilahan, sekali seminggu. Itu jika abangnya, Eko Hermawan kebetulan tak bisa mengantar lantaran lagi ada kerjaan.

"Jaga Bapak ya, Dek. Kalau nanti libur, abang pulang," lelaki 20 tahun ini memeluk adik semata wayangnya, Wulan Tri Asih. Bocah kelas 2 SD ini balas mendekap abangnya.

Ketua Bidang Sumber Daya Manusia (SDM) DPD Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo), Tedi Susilo dan Kepala Desa Danau Pulau Indah, Andi Asnizar, ikut larut dalam suasana bak di film India itu.

Diantar Tedi, Senin (14/9) sore, Dede sudah harus berangkat ke Pekanbaru. Lusanya, terbang ke Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Agrobisnis Perkebunan (STIP-AP) Medan, Sumatera Utara (Sumut).

Dede dinyatakan lulus sebagai mahasiswa penerima Beasiswa Sawit Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) 2020, program D4 jurusan Pengolahan Hasil Perkebunan.

Tak pernah terbayangkan oleh lelaki yang langganan juara satu di SMK 1 Kempas ini, bakal bisa kuliah, beasiswa pula.

Sebab itu tadi, boro-boro mau kuliah, bisa mendapat tambahan duit untuk cuci darah ayahnya saban minggu saja, sudah syukur.

"Kami enggak punya kebun kelapa sawit. Ayah, saya dan abang saya hanya buruh kebun. Sejak hampir dua tahun lalu, ayah enggak bisa lagi kerja berat setelah gagal ginjal. Mau tak mau saya dan abanglah yang kerja," cerita Dede kepada Gatra.com, Senin (14/9).

"Saya jadi buruh perawatan di kebun kelapa sawit orang. Satu hari dibayar Rp100 ribu. Kerja juga enggak rutin, kalau lagi musim hujan, enggak kerja," tambahnya.

Dede sangat berharap ayahnya bisa sembuh meski di batinnya, rasa was-was itu justru semakin menggunung. Sebab ibunya meninggal dua tahun lalu, juga oleh penyakit yang sama. "Ibu sempat juga cuci darah hampir dua tahun," suara Dede terdengar lirih.

Beberapa bulan lalu kata Dede, tak sengaja dia menengok postingan temannya soal beasiswa sawit di facebook.

"Saya coba ikut, mana tahu rezeki. Pas saya minta surat keterangan ke kantor desa, Pak Kades mengarahkan saya untuk menghubungi Pak Tedi. dari situlah saya kenal beliau," kenangnya.

Selama proses persiapan berkas yang diperlukan sebagai persyaratan hingga persiapan ujian, Tedi lah kata Dede yang membimbing. "Alhamdulillah saya berhasil. Untung ada beasiswa sawit BPDPKS ini, kalau enggak, enggak bakalan pernah saya merasakan kuliah" katanya.

Mendengar Dede lulus, Andi gembira bukan kepalang. Bagi Andi, walau Dede bukan anak saya, tapi Dede sudah menjelma jadi motivator anak-anak Desa Danau Pulau Indah ke depan.

Andi kemudian cerita kalau dia ketemu dengan Tedi pada Maret lalu. Waktu itu Tedi sedang sosialisasi Peremejaan Sawit Rakyat (PSR) plus beasiswa sawit. Dapat cerita soal beasiswa itu, Andi langsung menyurati semua ketua RT untuk mengarahkan masyarakat agar mendaftarkan anaknya ikut beasiswa. Tapi waktu itu mayoritas masyarakat tak percaya.

"Masa ada beasiswa ditanggung semua. Biasanya cuma uang kuliah. Enggak bener itu ah," Andi menirukan komentar salah seorang warga.

Lantaran Dede berasal dari keluarga pra sejahtera, Andi kemudian berinisiatif mengumpulkan sumbangan untuk membantu biaya Dede berangkat. "Sebagai bentuk kebersamaan kamilah. Ada duit terkumpul Rp1 juta, itulah kami berikan kepada Dede," katanya.

Andi kemudian berharap, kelak Dede selesai kuliah, dia kembali ke desa berpenduduk 2.400 jiwa itu. "Warga saya 70 persen pekebun kelapa sawit. Mudah-mudahan ilmunya nanti bisa bermanfaat untuk kemajuan perkebunan kelapa sawit di desa ini," Andi berharap.

Kepada anak-anak di desanya, Andi kemudian berpesan, bahwa keterbatasan ekonomi, tidak menjadi penghalang untuk menggapai cita-cita. "Yang penting ada kemauan dan kerja keras. Dede buktinya, dia berhasil," kata Andi.


Abdul Aziz

 

COMMENTS

LEAVE A COMMENTS